Kisah Tentara Gajah

Kisah ini sangat popular dikalangan ummat Islam karena berkaitan dengan sebuah rencana besar dari seorang raja yang punya ambisi menaklukkan setiap wilayah yang dia kehendaki. Bangsa Arab pun mengabadikan peristiwa tentara gajah ini sebagai petunjuk penanggalan yang dikenal dengan istilah ‘Amul Fil atau Tahun Gajah. Dialah Raja Abrahah yang dengan pasukan gajahnya ingin meruntuhkan Rumah Allah atau Baitullah di Mekkah. Abraha adalah seorang pemimpin atau raja di negeri Yaman dan Abraha  adalah seorang penganut Nasrani yang taat.

Kisah ini berawal dari banyaknya orang yang pergi ke Mekkah, khususnya penduduk Yaman kala itu. Dia bertanya kepada penduduk yang hendak berangkat menuju Mekkah. Untuk apa kalian ke sana dan Abraha dijawab, untuk menunaikan ibadah Haji. Apa Haji itu dan apa Ka’bah itu..tanya nya. Ibadah Haji itu adalah seruan Nabi Ibrahim AS dan Ka’bah itu adalah rumah Allah yang dibangun Ibrahim. Ia pun terus bertanya ; …dan Ka’bah itu terbuat dari apa. Dari bebatuan..ujar sejumlah penduduk. Lalu adakah penutupnya dan terbuat dari apa serta siapa yang membuatnya. Penduduk Yaman menjelaskan, bahwa penutup Ka’bah itu terbuat dari kain yang didatangkan dari Yaman.

Mendengar jawaban itu, Abraha yang kala itu masih sebagai raja kecil wakil dari An Najashi seorang kaisar di Yaman, lalu berencana untuk membangun Kanisah atau semacam gereja yang lebih besar dari Ka’bah. Ia pun memerintahkan para pembantu nya untuk membangun Kanisah itu dan dalam waktu singkat berdirilah sebuah Kanisah megah diwilayah  Shan’a Yaman. Kanisah itu kemudian dikenal dengan nama Qullais.

Kemudian Abraha menulis surat kepada An Najashi yang isinya berbunyi  “Wahai, Baginda Raja. Aku telah membangun sebuah gereja yang belum pernah ada sebelum engkau. Aku membangunnya uantuk memalingkan ibadah Haji bangsa Arab yang selama ini dilakukan ke Ka’bah di Mekkah.

 Namun niat busuk Abraha itu sampai diketahui oleh seseorang dari Bani Kinanah. Ketika suatu malam orang-orang dari Bani Kinanah mendatangi Qullais yang dibangun Abraha itu. Mereka lalu masuk dan melumuri setiap ruangan didalam Qullais itu dengan kotoran binatang.

 Abrahah pun marah dan bersumpah untuk mendatangi dan menghancurkan Ka’bah. Sumpah nya itu seketika diwujudkan dan ribuan ekor gajah melengkapi pasukannya menuju ke Mekkah.

 Mendengar berita tersebut, orang-orang Arab pun kebingungan. Mereka mengetahui, kekuatan pasukan Abrahah sama sekali tidak sebanding dengan kekuatan yang mereka miliki. Tetapi bagaimanapun juga, bagi bangsa Arab, melawan pasukan Gajah menjadi kewajiban, karena Abrahah bermaksud menghancurkan Ka’bah,  Baitullah Al Haram.

Beberapa kabilah yang dilewati perjalanan pasukan bergajah itu, berusaha menghambat langkah tentara Abrahah. Namun usaha mereka tidak mendapatkan hasil. Pasukan Abrahah dengan gajahnya terlalu kuat untuk dikalahkan oleh bangsa Arab.

Saat Abrahah dan prajuritnya sudah mendekati Mekkah, mereka menjumpai onta-onta milik Abdul Muththalib dan kemudian menangkapinya. Maka sang pemilik, Abdul Muththalib mendatangi Abrahah untuk meminta kembali harta miliknya, yaitu onta-onta yang telah diambil.

Abdul Muththalib adalah sosok yang rupawan. Wajahnya memancarkan kewibawaan dan ketenangan. Oleh karena itu, Abrahah menghormati dan memuliakannya. Kemudian Abdul Muththalib menyampaikan maksud kedatangannya, yaitu untuk meminta kembali onta-ontanya. Mendengar permintaan ini, Abrahah kaget, seraya berkata kepada Abdul Muththalib: “Engkau kemari untuk membicarakan onta-onta, tidak ingin membicarakan tentang rumah yang merupakan pusat keagungan, kemuliaanmu dan nenek moyangmu?”
Mendengar pernyataan Abrahah seperti itu, maka Abdul Muthtalib menjawab dengan ungkapan bak kata mutiara : “Aku adalah pemilik onta-onta itu. Adapun rumah itu ( Ka’bah ) mempunyai pemilik yang akan memeliharanya”.

Kemudian Abdul Muththalib pulang untuk membuka pintu Ka’bah. Bersama beberapa orang Quraisy, ia memanjatkan doa kepada Allah supaya menurunkan keselamatan dan kebebasan dari pasukan Abrahah. Setelah itu, mereka bergegas menuju gunung-gunung di sekitar Ka’bah untuk melihat apa yang akan dilakukan Abrahah dan pasukannya terhadap Ka’bah.

Gajah besar yang berada dalam pasukan Abrahah, selalu menolak untuk berjalan tatkala diarahkan menuju Mekkah, tetap duduk di tempatnya. Namun, apabila diarahkan ke tempat lain, ia berjalan dan berlari. Meski demikian, Abrahah dan bala tentaranya bersikeras tetap menuju Ka’bah untuk menghancurkannya.

Tidak berapa lama kemudian, Allah mengutus burung-burung yang berbondong-bondong. Di patuk dan kedua kaki burung-buru itu terdapat batu-batu kecil. Makhluk-makhluk tersebut melempari pasukan Abrahah dengan kerikil-kerikil yang dibawanya. Orang yang terkena lemparan batu tersebut, tubuhnya langsung terkoyak dan mati.

Melihat keadaan ini, pasukan yang selamat mencoba melarikan diri, tetapi mereka berjatuhan di jalanan dan di setiap tempat. Siksa yang menyakitkan telah didatangkan Allah menimpa pada Abrahah dan pasukannya. Allah mengabadikannya di dalam Al-Qur’an, surat Al Fil ayat 3-5.  Allah berfirman, yang artinya: “ Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong. Yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar. Lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat). “

Tentang Abrahah ini Rasulullah juga bersabda : “Sesungguhnya Allah menahan tentara gajah dari Mekkah, dan menjadikan Rasul dan kaum Mukminin menguasainya”. ( HR Syaikhani: Bukhari )

Menurut riwayat Ath Thabari yang sanadnya hasan, dari Qatadah. Dia menafsirkan ayat pertama surat Al Fil dengan mengatakan: “Abrahah Al Asyram datang dari Habasyah. Dia didukung pasukan dari Yaman menuju Baitullah untuk menghancurkannya, lantaran rumah ibadah mereka yang di Yaman dinodai bangsa Arab. Mereka menyerang dengan pasukan gajah. Ketika sampai di daerah Shifah, gajah tersebut duduk. Gajah ini, bila dihadapkan ke arah Baitullah, maka akan tetap berhenti. Tapi bila mereka mengarahkannya menuju negeri asal mereka, dengan sigap berdiri dan berlari-lari kecil. Tatkala, mereka berada di Nakhlah Yamaniah, Allah mengirimkan burung putih yang sangat banyak. Setiap satu ekor burung membawa tiga batu, dua di kakinya dan satu di paruhnya. Burung-burung ini melempari mereka dengan batu-batu itu, sampai Allah menjadikan mereka bak dedaunan yang dimakan ulat. Abrahah selamat dari kematian di tempat peristiwa itu. Namun tidaklah ia melewati satu daerah, kecuali sebagian daging dari tubuhnya berjatuhan, sampai akhirnya ia dapat menemui kaumnya dan memberi informasi kepada mereka, dan akhirnya mati”

Dari musibah yang ditimpakan kepada Abrahah dan pasukannya, kita dapat memetik pelajaran berharga. Tatkala Abrahah dan kaumnya ingin berbuat buruk kepada Ka’bah, maka Allah menghabisi mereka. Namun ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat akan menaklukkan kota Mekkah untuk membersihkannya dari praktek paganisme, mereka ditolong dan diberi kemudahan oleh Allah Azza wa Jalla.

Berkaitan dengan siksa yang didatangkan Allah dalam peristiwa penyerangan Ka’bah oleh Abrahah, sebagian orientalis dan orang-orang yang sehaluan dengan mereka dari kalangan intelektual muslim, sengaja menciptakan keraguan seputar keabsahan cerita yang menimpa tentara Abrahah ini. Padahal keabsahannya sudah ditetapkan dengan berita yang kuat, yang memberi keyakinan dan penegasan peristiwa itu.

Menurut mereka, kehancuran tentara Abrahah, disebaban karena mewabahnya penyakit cacar di tengah pasukan bergajah tersebut. Alasan mereka, berita yang disampaikan Ibnu Ishaq sanadnya lemah. Namun sudah tentu, hal itu tidak menunjukkan bahwa kebinasaan yang menimpa mereka terjadi karena itu. Kalau tidak demikian, mestinya Ibnu Ishaq tidak akan memaparkan kisah yang sangat akurat tersebut dalam beberapa halaman. Sementara kisah yang lemah itu diungkapkan dengan singkat.

Yang menjadi pertanyaan, mengapa cacar tidak mereka katakan sebagai dampak dari luka-luka, nanah, siksa akibat dari siksa Allah tersebut? Bukankah fakta seringkali menunjukkan, timbulnya wabah penyakit biasanya berjangkit pasca perang dan paceklik? Kalau seandainya itu merupakan wacana murni dari pencetusnya, kenapa ia memegangi berita yang sandarannya lemah, dan mempertentangkannya dengan teks-teks Al Qur`an? Wallahu a’lam.

About these ads

Perihal admin
Hobi Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d bloggers like this: