NU DI SUMBAWA PERTAMA KALI DIBENTUK TAHUN 1935

Nahdlatul Ulama yang menganut paham Ahlussunah Wal Jama’ah, sudah lama dikenal dan mewarnai kehidupan masarakat Sumbawa. Masuknya Nahdlatul Ulama di Kabupaten Sumbawa juga tidak lepas dari kesadaran masarakat setempat untuk mengembangkan agama Islam dalam rangka membina masyarakat dari kerusakan akhlak yang sudah mulai terasa kala itu. Selain itu pemahaman yang dibawa oleh Nahdlatul Ulama juga sangat selaras dengan adat istiadat dan budaya yang tumbuh dan berkembang subur ditengah kehidupan masarakat daerah itu karena sumber pemikiran yang dikedepankan oleh Nahdlatul Ulama tidak hanya Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empiric yang ada. Ini bisa dilihat dari banyak ragam kebudayaan Sumbawa mulai dari adat perkawinan hingga music-music tradisional yang hingga kini masih lestari.

Pola pikir yang diajarkan oleh NU adalah pola pikir yang realistis dan dinamis dengan mengambil jalan tengah antara ekstrim aqli ( rasionalis ) dengan kaum ekstrim naqli ( skripturalis ) Cara berpikir semacam itu adalah rujukan dari para pemikir terdahulu, seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi khusus dibidang teologi. Kemudian dibidang fikih NU mengikuti empat madzhab yakni Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat.

Pembacaan Barzanji disetiap prosesi adat Sumbawa misalnya, menunjukkan betapa pemikiran dan pemahaman yang dibawa NU sangat relevan dengan karakter dan sifat masarakat Sumbawa. Begitu pula dengan Ratib Rabana Ode maupun Ratib Rabana Rea sebuah music tabuh tradisional, juga sangat identik dengan pemikiran yang ada di dalam organisasi Islam terbesar di Indonesia itu.

Berawal dari adanya kesadaran sekelompok orang untuk melakukan pembinaan khususnya dalam menegakkan ajaran Islam di tengah-tengah kehidupan masyarakat Sumbawa. Upaya itu diwujudkan dengan membentuk sebuah wadah yang namai Badan Tablig. Badan Tabliq ini berfungsi untuk melakukan dakwah di tengah-tengah masyarakat. Pembentukan Badan Tablig itu juga dilakukan untuk menangkis propaganda Kristen yang sangat gencar dilakukan oleh jemaat sebuah gereja di Sumbawa kala itu.

Badan Tablig ini pertama kali diprakarsi oleh seorang Pegawai Kantor Pajak Bumi Sumbawa. Badan ini ternyata cukup ampuh khususnya untuk melawan propaganda tadi. Tabliq-tabliq yang dilakukan hingga ke pelosok-pelosok desa, mendapat respon luas di kalangan masyarakat Sumbawa. Dukungan yang kuat juga datang dari Pemerintah Kesultanan Sumbawa, yang saat itu dibawah kepemimpinan Sultan Kaharudin III.

Tersebutlah seorang pemuda pada sekitar tahun 1934 bernama Abdul Majid berusia kurang lebih 15 tahun, putra daerah Sumbawa yang sudah lama tinggal di Jakarta dan dikenal pula sebagai anak asuh H. Agus Salim, datang ke Sumbawa menawarkan kepada pengurus Badan Tablig untuk mengembangkan dakwah yang berlandaskan Ahlussunah Wal Jama’ah sekaligus menawarkan pembentukan organisasi NU yang saat itu dipimpin oleh KH Mahfud Siddiq.

Meskipun KH Agus Salim tidak tergolong sebagai tokoh NU dan Abdul Majid yang awalnya bukan seorang Nahdiyin, namun ia sangat mengagumi perkembangan organisasi NU saat itu. Begitu pula dengan kemampuan para tokoh-tokohnya yang saat itu sangat menojol dalam pentas pergerakan Nasional. Dari hasil tukar pikir antara Abdul Majid dengan tokoh-tokoh badan tablig tersebut maka secara aklamasi mereka dapat menerima pehaman Ahlussunnah Wal Jamaah tadi seraya membentuk NU di Kabupaten Sumbawa.

Untuk mewujudkan keinginan membentuk NU tersebut disepakatilah untuk mengutus dua orang kurir untuk menemui pimpinan NU di Jakarta. Kedua orang tersebut diterima dengan suka cita oleh jajaran Pimpinan NU saat itu. Mereka lalu pulang dengan membawa Anggaran Dasar dan Rumah Tangga Nahdlatul Ulama. Pada tahun 1935 terbentuklah kepengurusan NU di Kabupaten Sumbawa dengan Ketua M. Yakub Datu Kadi, paman dari Sultan Kaharudin III. Kemudian sebagai Wakil Ketua masing-masing H. M. Amin ( Penghulu ) H. Muhammad bin Nurdin, H. M. Ali dan H. Muhammad Lebe Dalam.
Ketika KH M. Dahlan dan KH Dhofir selaku konsul NU untuk Indonesia Timur berkunjung ke Sumbawa di akhir tahun 1935 barulah komposisi kepengurusan cabang NU Sumbawa disempurnakan. Rois dipercayakan kepada Haji Muhammad Amin ( Penghulu) Wakil Rois H. Muhammad Lebe Dalam, Katib H. M. Zaenuddin, Wakil Katib , Abdul Kahfi, dan Wakil Katib, Imam Haji M. Zain.
Sementara untuk Tanfiziah , Ketua M. Yakub Datu Kadi, Sekertaris Lalu Manca, Wakil Sekertaris Muhammad Zain Anwar. Bendahara I : Ido, Bendahara II : Supu ( Kepala Kantor Pajak dan Bumi Sumbawa. A’WAN dipercayakan kepada Dahing Alias Tahir, Baso Bayang, Baso Penek, Zaenuddin, Lalu Odang. Sedangkan MABAROT dipegang oleh H. Ahmad Dea Rura, H. Abdullah Kampung Bugis, dan H. Muhammad Zain Brang Bara. Bersamaan dengan itu pula sekaligus dibentuk Muslimat NU Cabang Sumbawa yang diambil dari para isteri pengurus NU Cabang Sumbawa.

Dukungan Sultan Muhammad Kaharuddin III dalam membentuk NU Cabang Sumbawa ini sangat besar. Seluruh keluarga Sultan saat itu menjadi kader nahdiyin. Sultan juga yang mengundang seorang Da’I dari Jakarta bernama Sayid Husain Sihab untuk berdakwah di Sumbawa. Sayid Husain bahkan tinggal bersama keluarga Sultan dikediamannya. Selama dua tahun ia berdakwah di Sumbawa. Ia pun terlibat dalam renovasi Mesjid Makam ( Mesjid Nurul Huda sekarang ). Setelah itu Sultan lalu mengirim Sayid Husain ke Bima dan Dompu untuk berdakwah sekaligus membentuk kepengurusan NU disana.

Perkembangan NU dari tahun ketahun terus melejit hingga memasuki tahun tujuh puluan.
Orang-orang NU pun banyak duduk di Pemerintahan seperti Haji Hasan Usman dan Haji Muhammad Zain Anwar. Haji Hasan Usman menjadi Bupati Sumbawa selama dua periode begitu pula dengan Haji Muhammad Zain Anwar dipercayakan menjadi Sekda Sumbawa. Sederetan nama lainnya juga tercatat sebagai orang-orang yang telah membesarkan NU di Sumbawa, seperti Aziz Rahim, Haji Muhtar Anwar, Haji Rauf Maula dan banyak lagi. Sekarang tetua NU yang tersisa adalah KH Moh Zain A.Rasyid yang sekarang menjabat Ketua Dewan Syuroh NU Cabang Sumbawa.

Ketika Golongan Karya mulai hadir dipentas politik bangsa ini, sejumlah tokoh NU yang berada dipemerintahan seperti Drs Haji Hasan Usman sebagai Bupati Sumbawa dan Haji Muhammad Zain Anwar sebagai Sekda, keberadaan NU di Sumbawa terpecah menjadi dua blok. Tokoh NU di pemerintahan membentuk Sekretaris Bersama Golongan Karya yang merupakan cikal bakal Partai Golkar sedangkan yang berada diluar Pemerintahan tetap bertahan di NU yang saat itu sudah berubah menjadi Partai Islam. Sejak saat itu orang-orang NU mulai saling curiga bahkan Haji Muhammad Zain Anwar dengan saudara kandungnya yakni Haji Muhtar Anwar saling berlawanan apliasi politiknya. Sejak saat itulah NU mulai membumi dan sulit bangkit. Kejayaan masa lalu hanyalah sebuah kisah manis yang berujung dengan kepahitan.

Namun pemahaman Ahlussunnah Wal Jamaah ditengah masarakat Sumbawa tidak pernah tergerus oleh derasnya terpaan badai politik dinegeri ini. Sekarang dibawah kepemimpinan Drs.Haji Mahmud Abdullah sebagai Ketua Tanfiziah NU Cabang Sumbawa, semua tokoh-tokoh muda NU dan kader nahdiyin lainnya, menyandarkan harapan besar untuk dapat membawa NU ini kembali berjaya seperti decade awal pembentukannya.

< penulis – ahmad zuhri muhtar – wk.ketua tanfiziah nu cabang sumbawa >

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: