PENDIDIKAN BUKAN UNTUK ORANG YANG TIDAK MAMPU

Seorang siswi SMK Negeri I Sumbawa Besar Febrianti 18 tahun, kini terancam berhenti Sekolah karena tidak mampu membayar SPP yang dituntut Sekolahnya. Putri pertama Muhammad Itong warga RT.02 RW 01 Kelurahan Seketeng Sumbawa Besar ini hanya bisa menangis meratapi nasibnya. Menurut Febi yang sekarang duduk di Klas 2 Jurusan Tehnik Komputer Jaringan SMK 1 Sumbawa Besar ini, Kepala Sekolah mengancamnya bahwa ia tidak diperkenankan mengikuti ulangan umum, jika tidak bisa mebayar uang SPP.

Jumlah uang SPP yang mesti dibayarnya Rp.145.000 sebulan dan harus dibayar untuk delapan bulan kedepan atau Rp. 1.160.000,- “ Dari mana saya mendapatkan uang sebanyak itu, sementara kondisi ekonomi saya seperti ini “ Ujar Muhammad Itong, orang tua Febi ketika ditemui Kamis malam 2 Juni 2011. Menurut pengakuan Itong, sebelumnya Febi tidak pernah membayar SPP karena anaknya masuk ke SMK Negeri 1 Sumbawa menggunakan Surat Keterangan Tidak Mampu. “ Saya bingung, kenapa sekarang harus membayar SPP, pihak Sekolah pun tidak mau tau dan tetap pada keputusannya untuk membayar SPP :” kata Itong memelas.

Keadaan Itong sendiri diakui Ketua RT setempat Tarmidin LM bahkan ia sendiri yang mengurus Surat Keterangan Tidak Mampu orang tua Febi. Tarmidin sangat menyesalkan kebijaksanaan Kepala SMK 1 Sumbawa Besar terhadap para siswa nya yang tidak mampu. Hal senada juga dikemukakan Jamaluddin Afifi SH anggota DPRD Sumbawa dan menyebut kebijakan Kepala SMK 1 Sumbawa itu keliru besar. Namun ia berjanji akan berupaya mengkomunikasikan persoalan ini dengan Kasek SMK 1 Sumbawa bahkan kepada Dinas terkait. “ Kita tidak bisa mendiamkan hal seperti ini “ Ujar Jamaluddin Afifi.

Sementara Kepala SMK 1 Sumbawa Kalsum S.Pd tidak bisa menerima tamu karena alasan sibuk ketika dihubungi Jum’at pagi 3 Juni 2011 di SMKN 1 Sumbawa. Namun seorang guru di Sekolah tersebut mengatakan bahwa ibu Kepala Sekolah tidak tahu masalah itu karena soal SPP itu ditentukan oleh komite Sekolah. Ia juga menepis anggapan kalau Febi tidak diperkenankan mengikuti ulangan umum apalagi sampai diberhentikan. Soal SPP itu kan bisa dicicil. Tetapi ketika guru yang minta tidak ditulis namanya itu ditanya soal Febi yang masuk SMKN 1 Sumbawa dengan Keterangan Tidak Mampu, yang bersangkutan mengatakan no coment karena ia sendiri tidak mengetahui soal itu.

Sejak Febrianti di ultimatum oleh Sekolahnya beberapa hari yang lalu, gadis yang rajin beribadah ini tidak lagi beraktifitas seperti biasa. Ia tidak lagi terlihat ikut sholat berjamaah di Mesjid. Febi juga tidak lagi terlihat menjajakan jajanan buatannya ke para tetangga. “ Saya malu dengan keadaan ini Paman “ ujar Febi singkat.

Gadis yang tidak pernah melepas jilbab sejak duduk dibangku klas 3 SMP ini, sehari-sehari berjualan kue donat berkeliling kampung untuk menutupi keperluan Sekolahnya. Dari hasil berjualan ini, Febi bisa menyisihkan uang Rp.10.000 sehari. Sementara sang ayah baru mendapat pekerjaan jika ada yang memanggil. Bekerja sebagai tukang kayu, itulah pekerjaan sehari-harinya, itupun lebih banyak menganggur.
Kini, Febi hanya bisa pasrah, syukur-syukur kalau pihak Sekolah dapat merubah kembali keputusannya. Febi pun akan sangat ber-terimakasih jika ada orang yang mau menjadi orang tua asuhnya sehingga gadis yang terbilang cukup pintar ini bisa menamatkan pendidikannya. Ketika bertemu penulis ; Febi hanya bercita-cita ingin menjadi anak yang sholeh, berpengetahuan dan bisa membantu kedua orang tua dan seorang adik yang masih duduk dibangku SMP.

“ Jika Febrianti benar-benar tidak bisa melanjutkan studinya, hanya karena tidak dapat membayar SPP maka semakin teranglah bahwa pendidikan di Negara kita bukan diperuntukkan bagi orang yang tidak mampu “ ujar seorang tokoh masarakat. Siapa peduli ?

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: