Nama-Nama Bulan Sya’ban

Sahrul Sholawat

Bulan Sya’ban juga disebut juga dengan bulan Sholawat, pengertian ini diambil dari salah satu ayat Al Qur’an yang turun dan memerintahkan untuk memperbanyak membaca sholawat yaitu surat Al Ahzab ayat 56 yang berbunyi “ Sesungguhnya Allah dan para malaikatnya bersholawat pada nabi ( nabi Muhammad saw, Wahai orang-orang yang beriman bersholawatlah padanya ( Nabi Muhammad ) dan ucapkanlah penghormatan padanya”. ( Al Ahzab 56 )

Penegasan ini juga disampaikan oleh Imam Sihabudin Al Qostolani dalam kitabnya Al-Mawahib, karena ayat ini diturunkan bertepatan dengan bulan Sya’ban.

Syahrul Kur’an

Dalam beberapa keterangan lain, Sya’ban disebut juga dengan Sahrul Qur’an, penegasan ini disampaikan oleh Habib bin Tsabit. Seorang Ulama besar yang bernama Syeh Ahmad bin Hajaji mengatakan “ Sungguh ulama’ ulama Salafi Assolih meyambut bulan Sya’ban dengan membaca Al qur’an “. Hal ini dikemukan dalam kitab Tuhfatul Ihwan. Walaupun membaca Al qur’an memang sangat dianjurkan kapan saja, dan dimna saja, namun karena bulan Sya’ban penuh dengan kemulyaan dan barokah, maka para ulama’ kembali menginggatkan dan mengajurkan agar kita senantiasa memperbanyak membaca Al Qur’an dan berdzikir agar menjadi pemacu untuk persiapkan meyambut bulan yang paling mulia yaitu Romadlhon. Hal ini juga menjadi hujjah bahwa bulan Sya’ban merupakan bulan kedua yang paling mulya setelah bulan Romadhan, penegasan ini isaratkan dalam hadist Nabi yang diriwayatkan oleh Anas RA, “ ( Sya’ban adalah bulanku (bulanya kanjeng Nabi) dan Romadlhon adalah bulan Allah, dan Sy’aban mutohhir ( menyucikan ) dan Romadhlon Mukaffir ( penghapus)’ ( H.R Adailami ). Jelas sekali bahwasanya beribadah dibulan Sy’aban merupakan pesiapan untuk meyambut bulan romadhan, menginggat hadist diatas menyebutkan kedua bulan tersebut dalam satu hadist. Adapun yang dimaksud Mutohhair yaitu dimana pada bulan ini moment yang tepat untuk mensucikan diri dari kesalahan serta dosa-dosa yang melekat pada diri manusia dengan cara meningkatkan ibadah dengan niat mendekatkan diri kepada Allah SWT, sedangkan yang dimaksud Mukaffair ( penghapus ) adalah dimana pada bulan ini juga menjadi moment bagi kaum muslimin untuk berlomba-lomba dalm kebaikan dengan berpuasa romadhon dan pada malamnya melaksakan qiyamul lail kemudian dengan memperbanyak membaca Alqur’an sehingga semua bentuk amal ibadah bisa dilaksakan dengan sebaik-baiknya, jika bisa mempergunakan Romadhon semaksimal mungkin, maka semua dosa kecil maupun besar akan Mukaffar ( terhapus )sehingga manusia kembali suci tanpa noda dan dosa, seolah-olah baru dilahirkan dari rahim ibunya.
Keitimewaan seseuatu bisa dilihat dari jumlah nama yang ada, dalam literatur arab islam, apabila sesuatu mempuyai keitimewaan, biasanya mempuyai lebih dari tiga nama bahkan sampi lima, begitu pula dengan Sya’ban. setiap mingga mempuyai keistimewaan malam puncak tepatnya hari jum’at ( Sayyidul Ayyam ). Dalam hitungan dua belas bulan juga memiliki keistimewaan yaitu Romadhan, kemudian yang kedua yaitu Sya’ban dan Rajab. Dalam bulan itu sendiri juga ada keitimewaan yang kita kenal dengan malam puncak, pada bulan romadhan puncaknya pada sepuluh terahir, oleh karena itu pada sepuluh terahir ini kaum muslimin berbondong-bondong kemasjid dengan memperbanyak ibadah serta beramal, mereka berlomba-lomba bersedekah,umrah dengan harapan mendapat kebaikan berlipat ganda. Karena pada sepuluh terahir ini akan datang malam yang lebih baik dari seribu bulan, malam itu dinamakan malam LAILTUL QODAR. Dalam bulan Sya’ban juga mempuyai malam puncak yang bertepatan dengan tanggal 15 Sya’ban, malam ini disebut dengan Lailatu Nisfi Sy’aban.

Ada apa dengan Nisfi Say’ban ?

Lailatu Nisfi Sy’aban mempuyai nama yang sangat banyak, serta mempuyai fadilah dan keistimewaan yang luar biasa setelah Lailatul Qodar. Dibawah ini Nama-nama Nisfi Sya’ban bersrta Fadilah dan tendensinya :

Lailtul Mubarokah : Malam ini diambil dari surat Al Duhon ayat 3 “ didalam Malam yang penuh Barokah “ Para Ahli tafsir banyak berpendapat, yang dimaksud malam penuh barokah yaitu malam Nisfi say’ban, ini dijelasakan oleh Ikrmah seorang Ulama’ tafsir, dan ada beberapa Ulama’ yang berpendapat bahwa Lailatul Mubarokah itu adalah Lailatul Qodar, hal ini dikemukakan oleh Ibnu Rajab Al Hambali, ini diambil dari kebaikan yang ada pada malam itu, atau karena mendekatnya para malaikat kepada kaum muslimin pada malam itu.

Lailatul Qismah ( Malam Pembagian ),

pada malam itu adalah malam pembagian rijki yang telah ditentukan Allah SWT, karena pada malam itu semua amal dalam setahun dari Sya’ban ke-Sya’ban diperbarui lagi.

Lailatul Takfir ( Malam penghapus ) yang dimaksud Takfir adalah ( penghapus), jadi malam Nisfi Sya’ban juga disebut dengan malam penghapus, karena pada malam ini Allah Akan menghapus dosa-dosa anak adam bagi yang memohon ampunan ( Istigfar). Dalam litertaur islam kita mengenal, bahwa hari Jum’at merupakan hari paling mulia dan kesempatan mengahapus dosa jum’at sebelumnya, begitu pula malam Nisfi Sya’ban juga menhgapus dosa setahun sebelumnya.

Lailatul Ijabah : ( Malam Penerimaan ), malam ini termasuk malam penuh dengan romat, magfiroh, ampunan serta penerimaan semua permintaan baru ( permohonon do’a). Barang siapa yang mempergunakan malam Nisfi Sya’ban sungguh-sungguh dengan munajat kepada Allah maka Allah akan menepati janjinya, hal ini dijelaskan dalam hadist nabi yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar bin Khottab berkata “Ada lima malam yang tidak akan ditolak suatu do’a pada malam itu ; Malam jum’at, dan awalnya malam bulan rojab, dan malam Nisfi Sya’ban, dan malam Lailatul Qodar, dan malam kedua hari raya ( Idul Fitri dan Idul Adha).

Lailatul hayat / Lailatul Iedul Malaikat. ( malam kehidupan /Malam hari rayanya pa malaikat. Sesungguhnya para Malaikat juga mempuyai hari raya, seperti halnya manusia dimuka bumi yang merayakan Iedul Fitri dan Iedul Adha namun hari raya mereka ( malaikat ) jatuh pada bulan Sya’ban tepatnya pada malam Nisfi Sya’ban dan Lailatul Qodar, pada malam itu para malaikat merayakan hari raya. Hal ini dijelaskan dalam kitab “ Uyunul Majalisi “ yang dikarang oleh ulama besar yang bernama “ Abu Abdullah Tohir bin Muhammad bin Ahmad Al Haddadi.

Lailatul Safaah : ( Malam Safaah), yang memberikan nama ini adalah Syeh Abu Mansur Muhammad bin Abdullah Al Hakim Al Nisaburi.

Bagaimana Pendapat Ulama Tentang Nisfi Sya’ban ?

Berpuasa pada bulan Sya’ban serta meyambut dan merayakan dengan bedzikir bersama,membaca yasin bersama menjadi polemik bagi kaum muslimin dari dulu sampai sekarang ini, sebagian melarang secara mutlaq, sebgian lagi membolehkan, sebagian lagi membid’ahkan, oleh karena itu kita perlu membaca pendapat para ulama tentang Sya’ban ( Nisfi Say’ban ) dibawah ini :

Pertama : Seorang Kholifah besar dari bani Umayyah Umar bin Abdul Aziz telah menulis pada penngawalnya ( pegawainya) di-Basrah “ Wajib bagi kalian untuk memperhatikan empat malam dari setahun ; Sesunggunya Allah SWT menurunkan rohmat pada malam tersebut, Awalnya malam bulan Rajab, malam Nisfi Say’ban, dan malam Iedul Fitri, dan Iedul Adha. Adapan Imam Syafi’I seorang mujtahid dibidang Fiqih dan hadist mengatakan “ Sesungguhnya do’a itu akan dikabulkan dalam lima beberapa malam; Malam jum’at, Iedul Fitri dan Iedul Adha, awal bulan Rojab, dan Nisfi Sya’ban”.

Kedua :Diriwayatkan dari Ka’ab “ Sesungguhnya Allah ta’ala menggutus Malaikat Jibril pada malam Nisfi Sya’ban kesurga untuk memerintahnya berhias dan mengatakan “ Sesungguhnya Allah taala telah membebaskan pada malam ini jumlah bintang-bintang dilanggit, dan sejumlah hari-hari didunia dan malamnya, dan sejumlah dedaunan dan pepohonan dan beratnya gunung-gunung dan sejulah pasir-pasir”

Ketiga : Imam Sayid bin Mansur juga meriwayatkan “ Tidak ada Malam selain malam Lailutul Qodar lebih utama kecuali Malam Nisfi Sya’ban, Allah SWT turun dari langit ( menurun kan Romat dan Magfirah ) maka Allah memberikan ampunan bagi semua hambnya, kecuali bagi orang-orang musrik, orang yang saling membenci ( satru) dan orang yang memutus tali persaudaraan.

Keempat :Ibnu Taimiyah berpendapat : Sungguh banyak riwayat hadist dan Atsar yang meyebutkan tentang keutamaan dan keitimewaan bulan Sya’ban, dan dinukil dari sebagian orang-orang salaf, sesungguhnya mereka melaksanakan pada malam itu ( Nisfi Sya’ban ) kalu sholat sendirian pada malam Nisfi Say’ban sudah dilkukan oleh masing-masing.
Adapun sholat secara brjama’ah dalam di Nisfi Sya’ban memang dibangun pada dasar yang kokoh secara berkelompok dengan tujuan taat kepada Allah dan beribadah itu ada dua bagian :

Bagian pertama : Sunnah Ratibah “ adakalanya Wajib, Sunnah, seperti sholat lima waktu, sholat Jum’at, Iedul Fitri dan Iedul Adha Sholat Tarowaih, Sholat Istisqo’ Sholat gernana, ini semua memang perlu dijaga dan dilestarikan.
Bagian kedua : Bukan Sunnah Rotibah :seperti berkumpul untuk melaksanakn sholat sunnah tatowwuk seperti Qiyamul Lail, atau membaca Al Qur’an, Atau dzikir kepada Allah SWT, atau do’a bersama hal ini tidak apa-apa ketika tidak menjadikan kegitan wajib, karena terkadang Nabi melaksanakan sholat tatowwuk dengan berjama’ah namun tidak mewajibkan, kecuali yang telah ia sebutkan, dan para sahabat nabi ketika berkumpul, kdangkala diperintahkan dari salah satu mereka untuk membacakan Al Qur’an dan yang lain mendengarkanya.

Dari beberapa penjelasan serta pendapat diatas bisa disimpulkan, bahwa Nisfi Sy’ban memang malam yang penuh dengan rohmat dan barokah shingga wajar sekali jika kaum muslimin memanfaatkan moment tersebut untuk berlomba-lomba dalam kebaikan serta memperbanyak ibadah serta memohon ampunan dengan dzikir bersama, do’a bersama, sholat tatowu’ bersama serta membaca surat yasin bersama. Sebagian orang memang meyakini seolah-olah mewajibkan dan tuntunan syariat dan Sunnah nabi hal ini menjadikan kegiatan tersebut menjadi bid’ah yang menjadi polemic. Sebagian lagi memang memanfaatkan moment Nisfi Sya’ban tersebut dengan sebaik-baiknya dengan meningkatkan ibadah kepada Allah maka akan mendapat Lailatul Muborokah, itu tidak apa-apa sehingga tidak jatuh pada Bid’ah Madmumah . malahan ini yang dianjurkan ulama.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: