Terimakasih Pak Berry Sabaruddin

Penggantian direktur RSUD Sumbawa belum lama ini dari dr.AA Kosala Putra kepada Drs.Haji Rasyidi, ternyata tidak membawa perubahan yang signifikan terutama soal pelayanan yang banyak dikeluhkan masarakat Sumbawa selama ini. Bobroknya pelayanan semasa dipimpin dr.AA Kosala Putra membuat anggota komisi III DPRD Sumbawa membuat rekomendasi kepada Bupati Sumbawa agar Kosala dicopot dari jabatan nya dan diganti dengan orang lain. Rekomendasi itu langsung ditanggapi Bupati Sumbawa dengan menempatkan Haji Rasyidi salah seorang asisten Sekda Sumbawa menggantikan dr. Kosala. Penggantian itu tentu dimaksudkan agar pelayanan di RSUD itu bisa lebih baik seperti yang diharapkan masarakat.

Namun apa yang menjadi harapan termasuk keinginan para wakil rakyat agar pelayanan di RSUD lebih prima ternyata tidak membuahkan hasil, bahkan kebobrokan itu semakin parah dari hari kehari. Sekelompok masarakat bahkan menduga adanya mafia obat yang melibatkan para dokter dan para medis di rumah sakit milik Pemkab Sumbawa itu. Dugaan itu diperkuat oleh Ketua Fraksi Partai Golkar DPRD Sumbawa Haji Nurdin Marjuni SH yang selalu mendapat laporan dari masarakat. Menurut Nurdin, indikasi kearah itu sangat jelas misalnya para pasien diberikan resep obat yang melebihi kebutuhan pasien. Kelebihan obat yang dibelikan pasienpun tidak pernah dikembalikan, semua diambil oleh para perawat. Untuk itu Nurdin meminta instansi terkait untuk menyelidiki dugaan ini. “ Kami akan mengawasinya setiap hari “: ujar Nurdin.

Tidak berhenti soal mafia obat, para petugas di RSUD pun dikenal kurang ramah terhadap pasiennya apalagi pasien itu datang dari kalangan tidak mampu. Sebuah cerita kami peroleh dari Ibu Fatimah 43 th asal Labuhan Sumbawa. Dia mengaku sangat kecewa dengan pelayanan petugas di RSUD Sumbawa. Hari itu dia dibawa salah seorang putranya ke IGD. Petugas jaga langsung menanyakan apakah yang bersangkutan membawa askes atau pasien umum ? Putra ibu Fatimah menjawab bahwa ibunya membawa surat miskin dari Desa dan RT. Petugas itu, cerita Fatimah ; tidak bertanya lagi. Namun dari raut muka mereka terkesan kurang menerima kehadirannya. Begitu juga dengan dokter jaga yang datang memeriksa Fatimah. “ Ia hanya menanyakan keluhan saya dan saya jawab perut saya sakit sudah dua hari “ ujar Fatimah.

Jawaban dokter itu hampir menghilangkan nafas Fatimah. Dokter itu langsung mengatakan ibu harus dioperasi dan biayanya sekitar sepuluh juta rupiah. Seketika itu juga Fatimah dibawa pulang putranya. “ Namun Allah maha kuasa, sakit saya langsung hilang begitu mendengar saya disuruh operasi “ tutur Fatimah sedikit geli mengingat pengalamannya di IGD RSUD Sumbawa.

Ternyata banyak warga yang nyaris menjadi kelinci percobaan bahkan tidak sedikit yang pernah merasakan kurang profesionalnya para dokter di RSUD Sumbawa. Contohnya saya sendiri. Hari itu 5 Juni 2011, isteri saya mendadak tekanan darahnya naik dan langsung saya larikan ke IGD. Tensi darahnya ketika tiba di IGD 220 per 120. Kemudian dokter dan para perawat melakukan tindakan medis. Isteri saya di-infus kemudian diberikan injeksi. Hanya dua jam di IGD isteri saya diperbolehkan pulang karena tekanan darahnya sudah turun ke 190. Resep pun diberikan dengan catatan bahwa obat itu membuat orang tertidur. Saya pun menurut apa yang dilakukan dokter dan para medis hari itu, karena saya memang bukan ahli dibidang kesehatan.

Malam harinya isteri saya tertidur pulas hingga menjelang tengah malam dia bangun dan mengeluh seperti kelelahan disertai keringat dari sekujur tubuhnya. Saya mencoba menghibur dengan kata-kata itu adalah pengaruh obat. Tidurlah kata saya.

 Namun ketika saya bangun hendak sholat subuh, suara isteri saya berubah. Lidahnya seperti terkunci dan bicara pun tidak jelas. Saya kaget..dan langsung memeluknya. Saya semakin panik, manakala isteri saya mengatakan tangan kanan saya nggak bisa bergerak. Tanganya lemas seperti tak bertulang. Pagi itu saya mencoba untuk mengklaim ke IGD namun dokter dan para medis disana mengatakan bahwa itu pengaruh obat. Saya pun mencoba sabar dan pulang menyusul isteri saya dirumah.  Siang harinya saya putuskan membawanya ke Mataram untuk dirawat di Bio Medika. Adik ipar saya langsung mendaftar ke dokter spesialis saraf dan mendapat giliran jam 10 malam. Saya tiba hari itu jam 06.00 sore.

Selepas sholat magrib ketika saya dan isteri bersiap-siap ke spesialis saraf, tiba-tiba datang seorang yang tidak pernah saya kenal sebelumnya. Dia adalah Pak Sabaruddin asal Sumbawa yang sudah lama tinggal di Mataram. Kedatangan pak Sabar ( begitu saya memanggilnya ) ke rumah adik ipar saya itu karena dia ditelpun oleh salah seorang keluarga. Dia ternyata ahli dibidang herbal. Dia membawa tiga bungkus ramuan tradisional dan langsung meminta untuk direbus. Satu bungkus dicampur 10 gelas air hingga menjadi 5 glas. Lalu disaring, didinginkan kemudian diminum 5 kali. Ketika pertama kali diminum, isteri saya merasakan sesuatu yang lain dari jam-jam sebelum kami tiba di Mataram. Malam itu pun batal ke dokter. 5 glas air ramuan itu pun habis diminum isteri saya.

Jam 04.00 subuh saya sangat kaget ketika isteri saya membangunkan. “ Kak..buka pintu halaman..itu anaknya datang “  Saya langsung menyalakan lampu kamar dan langsung bertanya dan melihat kondisi isteri saya. “ Apa tidak salah dengar, apa kamu yang bicara tadi “ kata saya. Isteri saya langsung menjawab..ia..itu anak nya datang, tolong bukakan pintu. Sambil berlalu membukakan pintu karena anak saya dan isterinya baru tiba dari Sumbawa menyusul kami ke Mataram saya sempat menangis sembari mensyukuri rahmat dan nikmat Allah SWT. Siapa yang tidak menangis, ketika malam menjelang tidur isteri saya masih sulit bicara namun tiba-tiba subuhnya sudah bisa bicara.

Hari kedua kami di Mataram, perubahan drastis terjadi lagi. Selain mulai lancar bicara berjalan pun semakin mudah walau masih dipapah dan begitu seterusnya hingga kami pulang dari Mataram. Sekarang bicaranya sudah mulai normal, begitu pula dengan kakinya sudah normal. Tangannya pun sudah kembali normal, sudah bisa digerakkan keatas bawah, walau belum bisa memegang sesuatu. Ramuan yang diberikan pak Sabaruddin masih dikonsumsi sampai hari ini. Ramuan itu diberikan untuk satu setengah bulan. Mudah-mudahan isteri saya kembali normal seperti semula.

 Pak Sabaruddin yang telah mengobati isteri saya adalah putra asli Sumbawa asal Semongkat Kecamatan Batu Lanteh, namun ia sudah lama merantau dinegeri orang seperti Sulawesi, Kalimantan dan terakhir sekarang di Mataram. Pak Sabar ini juga dikenal dengan panggilan Berry Sabaruddin. Alhamdulillah..bahwa pak Sabar ini juga bisa mengobati Kanker Payudara, Gagal Ginjal ( Cuci Darah ) Tumor dan banyak lagi penyakit-penyakit kronis yang tidak bisa ditangani secara medis akut. Saya akan merasa mendapat pahala jika bisa membantu siapa saja yang ingin berobat ke pak Sabar. Yang berminat silahkan kontak saya ke < 091353527949 > < 081909034491>

 Terimakasih pak Sabar..semoga selalu diberkahi dan dirahmati Allah SWT.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: