” BAHAM ” Pahlawan Yang Dilupakan

Masarakat Sumbawa generasi sekarang mungkin tidak tahu kalau dahulu ada seorang yang dengan sungguh-sungguh membela tanah air atau desa daratnya dari ketidak adilan khususnya terhadap sepak terjang Belanda yang memeras keringat, tenaga bahkan nyawa masarakat untuk kepentingan nya. Dia adalah seorang laki-laki yang dilukiskan berperawakan tinggi besar dan kekar bahkan dikenal sangat kebal dari semua jenis benda tajam bahkan ia tidak tertembus peluru. Baham ; itulah nama laki-laki asal Gunung Kecamatan Orong Telu dibagian selatan Kabupaten Sumbawa. Namanya sangat melagenda dikalangan masarakat Orong Telu bahkan di Kabupaten Sumbawa. Namun bersamaan dengan bergantinya zaman, nama Baham seolah terlupakan.

Baham terlahir dari sebuah keluarga sederhana di Dusun Gunung Desa Sebeok Orong Telu. Ia hidup ditengah kesederhanaan keluarganya. Bercocok tanam, itulah pekerjaan utamanya. Dimusim kemarau ia menghabiskan waktu nya untuk berburu menjangan atau memetik madu di hutan sekitar desanya. Ia juga dikenal sebagai manusia yang paling membenci penjajahan Belanda, temasuk orang-orang yang bekerjasama dengan Belanda. Sebagian pelaku-pelaku sejarah masa lalu, melukiskan Baham sebagai seorang pemberontak terhadap kebijaksanaan pemerintah kerajaan. Sehingga wajar kalau perjuangan seorang Baham tidak pernah ditulis apalagi menempatkan dirinya sebagai seorang pahlawan.
Masarakat Orong Telu ternyata tidak menerima kalau Baham disebut sebagai seorang pemberontak. Ketika saya masih duduk dibangku SMP saya sering berkunjung ke Dusun Gunung ini. Kala itu seorang cucu Baham masih hidup dan beliaulah yang banyak bercerita tentang kepahlawanan sang kakek. Menurut cucunya ini ( saya lupa namanya ) Baham selalu menentang kalau petugas pajak kerajaan datang mengambil paksa upeti atau pajak untuk raja, tidak peduli kalau masarakat gagal panen. Satu ketika ia membunuh pemungut pajak itu dan semua padi, beras atau apa saja yang diambil petugas itu, dikembalikan lagi kepada pemiliknya.Baham kemudian dicari untuk ditangkap oleh tentara kerajaan. Namun tak seorang pun dari tentara itu yang berhasil melumpuhkan Baham, walau ia ditembak sekalipun. Baham konon memiliki ilmu kebal dan bisa menghilang dari penglihatan orang yang sirik terhadanya.
Suatu hari ketika Baham sedang mencari ikan disungai dekat desanya, dua orang tentara Belanda menembaknya dengan peluru bulaeng ( emas ) dari atas tebing sungai. Baham terjatuh dan segera disusul oleh sang penembak. Namun apa yang ditemukan, sosok Baham konon telah berubah menjadi pohon pisang. Nah pohon pisang inilah yang dikuburkan masarakat Gunung dipinggir sungai tersebut. Saat berada di Gunung saya sempat menyaksikan kubur Baham. Terakhir setelah dusun ini berkembang, dikomplek makam Baham ini dibangun sebuah SD Inpres. Namun sayang, semua itu telah hilang. Dusun Gunung pun sekarang ini hanyalah tinggal nama, karena masarakat setempat sudah pindah dan membangun desa baru di jalan lintas Senawang-Sebeok.
Kembali ke cerita Baham ; bahwa ternyata Baham tidak mati. Pohon pisang yang dikuburkan masarakat hanyalah sebuah kamuflase agar tentara Belanda merasa puas karena sudah membunuh Baham.
Dari peristiwa itu Baham kemudian bersembunyi disebuah tempat disekitar Peruak ( pendakian ) Batu Anar dikawasan Batu Rotok Kecamatan Batu Lanteh. Cukup lama ia bersembunyi disini dan sebagai penghubung antara Baham dan keluarganya tersebutlah sebuah nama yang dikenal sangat bijak. Namanya Senan. Ia berasal dari Senawang Berang. ( Desa ini senasib dengan Gunung yang ditinggal pergi penduduknya.) Senan inilah yang banyak membantu mulai dari pelarian hingga ke persembunyian Baham. Konon dalam perjuangan melawan kaki tangan Belanda, Baham selalu ditemani Senan. Sejak ia bersembunyi, Baham selalu merepotkan pemerintah kerajaan. Ia diceritakan pernah merampok persediaan makanan kerajaan di Pemangong dan Lenangguar dan banyak aksi-aksi Baham lainnya yang membuat Belanda turun tangan langsung untuk mencari dan membunuh Baham. Kini Baham dan Senan sudah tiada. Tidak seorangpun yang mengetahui secara pasti kapan Baham maupun Senan itu meninggal.
Sekarang untuk mencari kuburan Baham sungguh sangat sulit. Yang ada hanyalah kuburan yang berisi pohon pisang disamping SDN Gunung. Kuburan sesungguhnya dari Baham ini, hingga sekarang tak seorang pun yang tau. Yang jelas Baham dikuburkan disekitar tempat persembujiannya. Begitu pula kuburan Senan. Dahulu kita dapat menjangkaunya dijalan setapak antara Gunung dan Sebeok. Namun sekarang tempat itu sudah dibangun jalan lintas Senawang Sebeok. Kuburan Senan pun hilang tak ketahuan rimba. Sosok Baham adalah pahlawan bagi masarakat Orong Telu, namun ia disebut pemberontak oleh pemerintah kerajaan Sumbawa kala itu.
Ohh..ya..cerita ini hanyalah sekelumit dari sebuah cerita panjang tentang seorang Baham. Pertanyaan saya kepada pembaca ; perlukah kita menelusuri atau menggali kembali kisah ini, minimal untuk mengetahui secara pasti apakah ia pahlawan atau pemberontak ??

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: