Mesjid Agung Nurul Huda Sumbawa,Milik Sekelompok Golongan ?

Kebijakan yang diterapkan pengurus Mesjid Nurul Huda Sumbawa Besar NTB semakin dipertanyakan oleh masarakat, terutama oleh kalangan Nahdiyin di Sumbawa Besar. Perang dingin pun tak terelakkan ketika kebiasaan lama yang sudah mentradisi dikalangan ummat Islam Kota Sumbawa Besar dipangkas habis oleh pengurus Mesjid, seperti membaca surah Yasin berjamaah setiap malam Jum’at,  Azzan pertama menjelang  sholat Jum’at hingga pembacaan do’a qunut pada sholat Subuh, Wirid dan banyak lagi amalan-amalan yang selama ini dilakukan oleh warga yang berfaham ahlussunnah wal-jama’ah sekaligus menjadi identitas Mesjid Nurul Huda Sumbawa Besar. “ Namun semua itu tidak lagi kita temukan di Mesjid yang dahulunya menjadi kebanggaan ummat Islam Sumbawa Besar itu “ ujar Drs. Haji M.Ali Tahir seorang tokoh NU di Sumbawa Besar. Ia bersama beberapa tokoh NU lainnya, bahkan harus mengudurkan diri dari kepengurusan Mesjid karena adanya perbedaan pemahaman dengan pengurus lainnya.

Drs. Haji M.Ali Tahir, mundur dari kepengurusan Mesjid sebagai Imam III karena yang bersangkutan hanya diberi jadwal menjadi imam sholat berjamaah pada fardu Zhuhur dan Ashar. “ Saya sangat kecewa “ tegasnya. Sebelumnya ia juga mendapat jadwal menjadi Imam Sholat Jum’at dan sholat fardu lainnya. “ Mungkin karena saya selalu mengawali surah Al-Fatihah dengan membaca Basmalah “ imbuhnya.

Tokoh NU lainnya yang juga ikut mengundurkan diri dari kepengurusan Mesjid Nurul Huda Sumbawa Besar adalah Drs. Syaikhuddin Husain SH. Alasan pengunduran dirinya tidak berbeda dengan tokoh NU lainnya. “ Saya tidak habis pikir terhadap para pengurus Mesjid yang selalu mengedepankan pemahaman pribadinya tampa mau mengakomodir pemahaman kelompok lain “. Paparnya. Ia juga mengaku pernah mengadukan hal itu kepada Bupati Sumbawa dan Kakandepag Sumbawa, namun tidak pernah ditanggapi dan hingga sekarang praktek  monopoli pemahaman masih terus berjalan di Mesjid tersebut.

Mesjid Nurul Huda yang dulu bernama Mesjid Makam dan dibangun Tahun 1886 sebagai Mesjid Kerajaan oleh Sultan Muhammad Kaharuddin III menjadi sebuah kebanggan ummat Islam setempat, namun kini Mesjid yang sudah direnovasi dengan gaya moderen itu tidak lagi dapat dibanggakan khususnya oleh kalangan Nahdiyin Sumbawa Besar, karena Mesjid tersebut sudah menjadi milik sekelompok golongan yang selalu memaksakan pemahamannya kepada ummat yang lain.

Tanggal 15 Sya’ban kemarin misalnya, lagi-lagi ummat Islam Kota Sumbawa Besar kecewa. Pasalnya ratusan warga yang ingin melakukan sholat Nisfu Sya’ban dilarang oleh pengurus Mesjid. “ Mereka menyebut Nisfu Sya’ban itu adalah bid’ah dan tidak boleh dilaksanakan. Tutur Haji Malik warga kelurahan Brang Bara Sumbawa Besar. Haji Malik bersama warga se-lingkungan nya terpaksa melaksanakan sholat Nisfu Sya’ban di Musallah atau langgar yang ada disekitar tempat tinggal mereka. Ketika penulis menanyakan ; mengapa tidak dilaksanakan dilingkungan masing-masing saja agar tidak menimbulkan ketegangan sesama ummat ? Haji Malik menjawab kami hanya ingin syi’ar Islam khususnya Nisfu Sya’ban itu terpancar keseluruh relung kehidupan masarakat. Nisfu Sya’ban itu kan amalan yang baik dan istilah bid’ah yang mereka sebut itu kan sifatnya khilafiah. Jadi tidak usahlah dipertajam. Tegasnya.

Beberapa tahun yang lalu, ketika pertengahan bulan Sya’ban datang, Mesjid ini penuh sesak oleh ummat Islam yang melaksanakan sholat Nisfu Sya’ban, namun sekarang hanya tinggal kenangan. Begitu pula dengan sholat tarawih, sekarang lebih dominan melaksanakan yang delapan raka’at. Sedangkan yang 20 rakaat sudah tersingkir dan tidak mendapat tempat lagi di Mesjid tersebut. Padahal akan lebih indah jika yang melaksanakan sholat tarawih 8 raka’at  bisa istirahat dan menunggu yang 20 raka’at selesai dan secara berjamaah melaksanakan witir. “ Itulah yang kami usulkan selama ini, namun ditolak mentah-mentah oleh pengurus Mesjid “ tutur Haji M.Ali Tahir. “

Karena tidak ada yang mau mengalah maka setiap tahun sejak empat tahun terakhir ini, Sholat Tarawih di Mesjid Nurul Huda Sumbawa  terdapat dua imam dan tentu pula ada dua kelompok makmum yang melaksanakan sholat tarawih secara bersamaan. Dulu yang 8 raka’at mengambil tempat diteras luar mesjid, sekarang mereka sudah menguasai seluruh mesjid. Sedangkan yang 20 rak’at terpaksa mengambil tempat yang kosong diluar ruang utama Mesjid tersebut. Na’uzubillah.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: