Wacana PAW Anggota DPRD Sumbawa Dari Golkar Bergulir Lagi

Sepuluh rekomendasi  yang dihasilkan Rakerda DPD Partai Golkar Sumbawa bulan Maret 2011 lalu belum sepenuhnya dilaksanakan oleh pengurus baru Partai Golkar Sumbawa pimpinan Drs A.Rahman Al-Amudi. Beberapa rekomnedasi yang dianggap penting untuk ditindak lanjuti adalah  menon-aktifkan staf ahli fraksi Partai Golkar di DPRD Sumbawa kemudian memberi sangsi tegas kepada anggota fraksi Golkar yang tidak melaksanakan fungsinya dengan benar, lalu terhadap  kader yang dimaksud juga  dianggap  tidak mampu menindak lanjuti surat kesepakatan bersama caleg dapil III untuk melakukan PAW terhadap kader Golkar di DPRD Sumbawa yang disebut telah melakukan penghianatan terhadap partai pada Pilkada Sumbawa 2010 yang lalu.

Tututan itu datang dari Ketua AMPG Sumbawa Abdul Haji S.Ap seperti ditulis sebuah Harian Selasa 26 Juli 2011. Selain itu Abdul Haji juga menilai fraksi Golkar di DPRD Sumbawa lemah dan tidak mampu melakukan konsolidasi lintas fraksi dalam menggunakan hak interpelasi misalnya membentuk Pansus terkait mutasi yang dilakukan Bupati Sumbawa yang disebut tidak profesional.

“ Suara ini sebenarnya sudah lama terdengar,persisnya selepas Pilkada Sumbawa namun persoalan ini lebih mengarah kepada pribadi-pribadi kader partai seusai Pemilu Legislatif yang lalu “ ujar Ujang seorang fungsionaris Golkar Kecamatan Sumbawa. Masalah sebenarnya berawal dari ketidak senangan Drs.A.Rahman Al-Amudi yang saat itu menjadi wakil ketua DPD Golkar Sumbawa dan M.Agus Okak sebagai ketua AMPG  terhadap Jamaluddin Afifi SH yang mampu mengumpulkan suara terbanyak dari dapil III dan melibas dua pesaing tangguhnya itu. Urutan kedua Haji Hafid Awad  yang akhirnya mendudukan mereka sebagai wakil partai Golkar di DPRD Sumbawa dari dapil III.

Menurut Ujang moment pilkada yang memenangkan JM-An lalu dijadikan alasan oleh mereka untuk menohok Jamaluddin Afifi SH dengan tudingan melakukan penghinatan terhadap partai pada Pilkada lalu. “ Padahal jasa pak Jeff bagi paket Annur sangat besar kala itu, ia bahkan dengan suka rela dan biaya sendiri melakukan tour politik sampai kewilayah terpencil di Sumbawa untuk memenangkan paket Annur “ tambah Ujang.

Begitu pula dengan penegasan Ismail seorang kader Golkar dari wilayah Kecamatan Labuhan Badas yang menepis tuduhan penghianatan terhadap Jamaluddin Afifi. “ Bagaimana mungkin pak Jeff melakukan penghianatan terhadap partai khususnya kepada pasangan Annur. Saya saksi hidup yang akan menjelaskan kepada siapa saja yang membuat tudingan seperti itu “ papar Ismail.

Warga Dusun Pamulung ini malah menuding balik. “ Coba tunjukkan angka kemenangan Annur di TPS-TPS mereka..kan kalah semua, namun ditempat-tempat yang pernah didatangi pak Jeff Annur unggul dari JM-An. Ini sebuah bukti bahwa pak Jeff tidak berkhianat “ imbuh Ismail.

Lain halnya dengan kemampuan pimpinan DPRD Sumbawa yang nota bene kader Partai   memang sangat kentara bahwa yang bersangkutan tidak memilik poltic power khususnya terhadap eksekutif terutama soal mutasi-mutasi yang dilakukan Bupati dan Wakil Bupati Sumbawa terhadap para PNS yang diduga dan disangkakan berpihak kepada pasangan Annur saat itu. Haji Farhan Bulkiah dianggap tidak mampu mengerem balas dendam JM-An terhadap orang-orang Annur di pemerintahan apalagi para artis MK ( begitu sebutan terhadap para PNS yang menjadi saksi bagi Annur di sidang MK ). “ Haji Farhan itu hanya membela saudaranya namun mengabaikan kader partainya “ tegas Tabrani yang mengaku bukan orang Golkar tapi sebagai tim sukses Annur.

Tabrani merasa sedih melihat kader partai Golkar yang menjadi korban balas dendam pemenang Pilkada lalu. Ia bahkan tidak sampai hati melihat seorang pegawai kecil tampa jabatan tampa eselon dipindahkan ke Kecamatan terpencil hanya karena memberi kesaksian tentang kebenaran yang mereka lihat dalam lika liku tudingan kecurangan oleh tim JM-An.

Namun semua itu sudah terjadi ibarat nasi sudah mem-bubur. Kekecewaan yang ditimbulkan oleh ketidak mampuan pimpinan DPR Sumbawa harus ditelan sebagai pil pahit bagi orang Golkar. “ Lucu kan..ketika dulu semua pasang dada untuk memuluskan Haji Farhan sebagai Ketua DPRD tampa mau melihat yang bersangkutan hanya mampu meraih empat ratusan suara dari dapil IV pada Pemilu lalu, sekarang kecewa karena keinginannya tidak diakomodir oleh jagoannya.

“ Jadi kalau ingin PAW lakukan saja terhadap Ketua DPRD Sumbawa yang nggak becus itu “ ujar M.Nasir yang mengaku kader Golkar Kecamatan Alas. Namun kader lain partai Golkar sepertinya kurang yakin Haji Farhan bisa di PAW karena semua kader Golkar juga tahu bahwa Ketua DPD Golkar Sumbawa sekarang Drs A.Rahman Al-Amudi  juga tidak punya keberanian dan kemampuan ke arah itu. Lagi pula tidak ada untungnya bagi dia. Lain hal nya kalau Ketua Komisi III DPRD Sumbawa Jamaluddin Afifi SH yang di PAW maka yang duduk menggantikan sudah pasti Rahman Al-Amudi karena yang bersangkutan memiliki perolehan suara urutan ke III pada Pemilu lalu. “ Ini kan target dia “ tegas Rasyid mantan tim suskses Annur di Kecamatan Moyo Hulu.

Drs.A.Rahman Al-Amudi menjadi Ketua DPD Golkar Sumbawa pun digugat sejumlah kader Partai Golkar Sumbawa karena bukan produk Musda atau Musdalub. Yang hasil Musda adalah Amin SH namun karena  yang bersangkutan menjadi anggota DPRD NTB maka Mang ( begitu panggilan A.Rahman Al-Amudi ) ditunjuk sebagai pelaksana tugas Ketua DPD yang akhirnya berujung kepada penyerahan mandat oleh Muh.Amin SH. “ ini nggak lucu “ kata M.Ali kader Golkar dari Kelurahan Lempeh sembari menyalahkan Muh.Amin SH yang telah menyerahkan mandat begitu saja kepada kader yang salah. “ Coba dalam Musda,saya pastikan tidak ada yang memilih Mang..karena kader yang tidak mementingkan diri sendiri  masih banyak di Golkar. Buktinya dia tidak mendapat suara yang signifikan dalam Pemilu lalu dan mampu dikalahkan oleh kader berumur setahun jagung yakni Haji Hafid Awad “ ucapnya.

Menurut M.Ali, sebenarnya Ha ji Hafid Awad belum bisa dikatakan kader Golkar yang militan karena yang bersangkutan baru masuk Golkar beberapa bulan sebelum Pemilu lalu. Awalnya ia adalah kader PKS bahkan termasuk salah seorang penggagas terbentuknya PKS di Sumbawa. Ia pun pada Pemilu 2004 mencalonkan diri sebagai anggota DPRD Sumbawa dari PKS. Gagal duduk di legislatif kemudian ia tercatat lagi sebagai salah satu orang yang membidani kelahiran Partai Hanura di Sumbawa kemudian keluar lalu ditampung dan dimasukkan sebagai caleg partai Golkar oleh Mang Alamudi.” Hasilnya Mang kalah suara dengan Hafid “ tambah M.Ali.

Sementara itu mantan Ketua DPD Golkar Sumbawa Muh.Amin SH yang sekarang menjabat Sekretaris Golkar NTB ketika dimintai tanggapan nya soal keinginan sebagian kader Golkar Sumbawa itu mengaku belum menerima laporan resmi dari DPD Golkar Sumbawa. “ Nanti kalau sudah ada laporan DPD Golkar Sumbawa baru akan dikaji dan saya berikan keterangan perss “ ujar anggota DPRD NTB ini ketika dihubungi via ponselnya malam ini.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: