Jagung Kumala ke Bio Gas

Kamis 29 September 2011, dua kali saya melewati lokasi wisata kuliner jagung rebus di Kecamatan Rhee ketika saya pergi dan pulang dari melayat seorang keluarga yang meninggal dunia di Utan. Didalam mobil saya mendapat inspirasi tentang bagaimana mamamfaatkan keberadaan wisata jagung rebus/bakar di Rhee tersebut.  Luas tanaman jagung kumala diwilayah Rhee ini cukup besar antara 10 hingga 15 hektar. Buah nya menjadi incaran setiap orang yang melewati tempat tersebut untuyk sekedar mencicipi jagung rebus yang masih segar atau jagung bakar dengan rasa pedas. Buah nya sudah dimamfaatkan untuk semua orang. Pohonnya menjadi makanan ternak masarakat setempat. Namun keinginan saya tidak berhenti sampai disitu. Inspirasi saya datang, bagaimana memamfaatkan semua limbah dari jagung tersebut tidak sebatas makanan ternak.
Sambil menghayal didalam mobil, seandainya saya orang berada maka akan saya coba memamfaatkan kotoran hewan-hewan tersebut menjadi bahan baku biogas, apalagi tahun depan harga minyakl tanah sudah dipastikan naik menjadi 8 hingga 9 ribu perliternya. Pemerintah sejak awal juga sudah mencanangkan bakan bakar alternative yang lebih murah yakni menggunakan elpji. Namun masarakat sepertinya nggan memakai elpji karena trauma dengan pemberitaan berbagai media, bahwa tabung elpiji itu sering meledak. Ketakutan ini berakibat kepada kembalinya masarakat menggunakan pola klasik dalam memakai bahar bakar yakni kembali menggunakan kayu bakar. Tentu saja akibat nya akan lebih fatal karena hutan dan tanah kita kembali terancam kelestariannya.

Biaya untuk membuat instalasi biogas ini ternyata tidak terlalu mahal berkisar antara 3 hingga 4 juta rupiah untuk sebuah tungku berukuran 4 x 4 meter dibuat dari pasangan batu bata dan semen ditambah sebuah panel sederhana dari pipa plastic transparan untuk mengetahui jumlah gas yang tersedia. Dari tungku ini, gas dialirkan kerumah-rumah penduduk maksimal 4-5 rumah melalui pipa-pipa kecil.

Caranya sederhana..8 hingga 10 kg kotoran sapi/kerbau dituangkan kedalam tungku tersebut lalu ditutup rapat-rapat dan dalam tempo 1 x 24 jam, tungku tersebut sudah menghasilkan gas murni. Kotoran hewan itu ditambah setiap hari..gas nya pun tidak habis tergantung penggantian bahan bakunya. Jika dilakukan tiap hari sekali, maka masarakat dapat menikmati gas murni lalu ampas nya dapat dijadikan pupuk alami.

Camat Rhee Drs.Ibrahim saya coba kontak ketika dalam perjalanan menuju Utan  dan saya coba kemukakan ide itu. Ternyata nyambung, bahwa apa yang saya hayalkan itu sudah diagendakan oleh Camat Rhee..bahkan katanya dia sudah membuat proposal ke Bupati dan Distamben Sumbawa. Lalu saya tanyakan bagaimana responnya…sayang…. Camat Rhee itu  sedikit lemas..ia mengatakan..tidak ada jawaban, bahkan Kadistamben Sumbawa menjawab tidak punya uang…..ujar pak Ahim diujung telfon.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: