Memburu Waktu , Banyak Fasilitas BIL Belum Rampung.

Hari ini Jum’at 30 September pukul 18.00 Wita Bandar Udara Selaparang Lombok secara resmi ditutup. Sabtu 1 Oktober 2011 Bandar Udara Internasional Lombok (BIL) di Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah mulai dioperasikan. Namun banyak fasilitas BIL yang hingga saat ini belum rampung sepenuhnya. Bagaimanakah kesiapan BIL yang akan beroperasi pukul 10.00 wita, tepat 1 Oktober 2011 nanti? Sejak Kamis 29 September 2011 aktivitas disepanjang jalan menuju kawasan BIL telah ramai oleh truk-truk pengangkut barang serta perlengkapan milik Angkasa Pura.
Proses boyongan memang telah dilakukan sejak 26 september lalu, namun aktivitas itu semakin meningkat mendekati operasi pertama BIL di Lombok Tengah tsb. Aparat Kepolisian mengamankan jalannya proses boyongan tersebut, puluhan aparat gabungan TNI dan Polri bersenjata lengkap disiagakan di BIL. Tiap kendaraan yang masuk dipriksa oleh petugas TNI dan Polri di Tol Gate BIL. Berbagai peralatan navigasi di bandara Internasional sudah siap dan laik oprasional, baik untuk aktivitas pendaratan dan lepas landas.

Menurut General Manager Angkasa Pura I, I Ketut Erdi Nuke, proses kalibrasi peralatan navigasi telah dilakukan oleh Balai Kalibrasi Ditjen perhubungan Udara kementrian Perhubungan, yang dilakukan secara pararel, karena selain pengujian terhadap peralatan navigasi, pengujian Instrument Fligth Procedur (IFP) atu prosedur peralatan pendaratan dan lepas landas serta commissioning.
Terkait dengan belum adanya sertifikasi BIL, Kepala Dinas Perhubungan, Informasi dan Komunikasi (Dishubkominfo), Ridwansyah, mengatakan sertifikasi telah ditandatangani oleh Dirjen Perhubungan Udara, Kementrian Perhubungan . “informasi yang kita peroleh sudah ditandatangani oleh Dirjen Perhubungan Udara, pukul 13.00 wita, sudah tidak ada masalah kita harapkan bisa lancar-lancar” katanya, kamis kemarin.
Menurut aturan BIL harus didukung Serikat Bandar Udara (SBU) baru bisa beroperasi. Menurutnya proses sertifikasinya cukup panjang, sekitar dua pekan lalu digelar sertifikasi menyeluruh, termasuk kalibrasi ulang semua peralatan dan juga infrstruktur pendukung kebandarudaraan. Dari pantauan IS di BIL, aktivitas boyongan pekerja daqn buruh di lokasi BIL semakin meningkat, sejumlah ruang kantor disiapkan, khususnya kantor Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG, ruang-ruang maskapai penerbangan yang akan menempati areal BIL.
Sementara itu pekerja yang menuntaskan ruangan-ruangan BIL, masih dituntaskan pengerjaannya, sejumlah kaca depan BIL masih banyak tempelan stiker yang belum dilepas. Kaca-kaca ruangan banyak yang juga belum terpasang. Sejumlah buruh mebel juga bekerja lembur sejak tiga hari terakhir. “kita ini harus cat ulang sejumnlah peralatan mebel, karena sudah dikirim sejak dua tahun lalu, dan saat mau beroperasi BIL ini, semua harus dicat ulang” kata Nyoto, buruh di BIL dari Surabaya.
Para buruh mengeluhkan kerja lembur yang mereka lakukan sejak tiga hari terakhir. “benar-benar melelahkan kerja kejar target seperti ini. Bayangkan kami ini telah dua bulan nganggur tak ada pekerjaan, dan tiba-tiba lembur lagi karena harus kerjar target agar selesai 30 September” kata seorang pekerja.
Pekerja lainnya yang mengerjakan instalasi listrik juga mengaku kerja lembur selama sepekan terakhir. Tetapi dia kurang yakin semua bisa
total selesai hari ini. Hal yang sama juga diungkapkan sejumlah sataf maskapai penerbangan, bagi mereka apapun yang terjadi mereka harus siap. “bagaimanapun ya terpaksa kita harus siap, mau bangaimana lagi, do’akan saja tak terjadi hal-hal yang tak kita inginkan” kata salah seorang staf maskapai penerbangan yang menolak disebutkan namanya.
Bil yang terletak di Tanak Awu, sekitar 40 kilometer arah selatan kota Mataram, memiliki areal 551 hektar dan memiliki landasan pacu 2.750 meter x 40 meter persegi, sehingga diyakini bisa didarati pesawat pesawat Air Bus 330 atau Boing 767 dan dapat menampung 10 unit pesawat. Kapasitas tampung terminal penumpang BIL mencapai 3 juta orang setahun, dengan areal parkir 17.500 meter persegi.
Eks Pemilik Lahan Tuntut Pekerjaan di BIL Jelang beroperasinya BIL, nampaknya masih ada persoalan yang tersisa, sejumlah warga eks pemilik lahan di kawasan BIL, Tanak Awu Lombok Tengah menuntut janji pihak Angkasa Pura I agar diperkerjakan di BIL. “mereka sudah janji 50 persen masyarakat eks pemilik lahan yang pro pemerintah ketika proses pembebasan akan dipekerjakan di BIL, tapi janji itu bohong. Justru orang luar yang banyak diangkat sebagai pekerja di BIL” kata Amaq Risnam.
Amaq Risnam mengaku sebagai eks pemilik lahan di BIL, sekitar 73 hektar lahannya dibebaskan dengan harga Rp. 200 ribu per are. Karena berpihak pada pemerintah dalam proses pembebasan lahan unutk kawasan Bandara Internasional itu, maka pihak Angkasa Pura I dan Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah menjanjikan mereka jatah pekerjaan di BIL.
Mardiono mengaku pernah memiliki lahan di kawasan BIL hampir 1 hektar, harga pembebasan lahan juga sama Rp 200 ribu. Dia juga termasuk warga yang pro pemerintah dan Angkasa Pura, mereka sempat berseteru dengan ratusan petani yang juga pemilik lahan di kawasan itu dan menolak keras pembebasan lahan untuk BIL.
Nilai mega proyek BIL mencapai Rp945,8 miliar, terdiri atas Rp679 miliar tanggungan Angkasa Pura I, dana sebesar Rp110 miliar tanggungan Pemprov NTB dan Rp40 miliar dibebankan pada Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah.
Jalan Menuju BIL Belum Rampung
Ruas jalan yang repesentatif belum bisa dirampungkan saat Bandara Internasional Lombok yang berlokasi di Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, dioperasikan 1 Oktober 2011. Secara keseluruhan jalan akses BIL yang tengah dibangun baru 60 persen, namun sudah dapat dipakai saat BIL dioperasikan 1 Oktober besok. Saat ini, sudah terbangun ruas jalan akses BIL sepanjang 21,3 kilometer dari kawasan bandara di Tanak Awu, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, hingga Patung Sapi di Gerung, Kabupaten Lombok Barat.
Pembangunan jalan akses BIL sepanjang 21,5 kilometer itu menggunakan skema dua jalur empat lajur (ring road), namun saat ini baru sebagian yang berbentuk dua jalur empat lajur, sehingga pekerjaan jalan itu masih terus berlangsung hingga akhir Desember 2011.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: