Warga Lingkar BIL, Demo Tuntut Pekerjaan

Bandara Internasional Lombok

 Baru tiga hari beroperasi, Bandara Internasional Lombok (BIL) sudah diwarnai  aksi demonstrasi oleh ratusan warga lingkar bandara, yang  mengaku sebagai  eks pemilik tanah di kawasan bandara. Mereka dari Desa Tanak Awu, Penujak dan Ketare menunut agar pihak Angkasa Pura I mempekerjakan mereka, seperti yang dijanjikan pada mereka, jatah 50-70 persen pekerjaan untuk warga lingkar bandara.

Sambil membawa spanduk dan poster tuntutan mereka, warga yang sebagian besar terdiri dari pemuda dan pemudi di daerah lingkar  Bandara , berpakian rapi, layaknya peserta training yang siap dipekerjakan.  “kami ini anak-anak warga eks pemilik tanah yang dijadikan bandara ini, sekarang kami menangih janji atas pekerjaan di tanah yang pernah menjadi milik kami. Apapun pekerjaan itu kami siap” kata Kartini dari Tanak Awu.

Para pendemo juga menerikkan yel-yel tuntutan mereka, diantaranya adalah ‘ kami nganggur, bandara hancur’ , “ 550 hektar ditukar dengan tukang sapu “, dan banyak tuntutan-tuntutan lainnya yang dituliskan di poster dan spanduk mereka. Aksi itu mendapat pengawalan ketat dari puluhan aparat Kepolisian Lombok Tengah.

Karena khawatir terjadi hal-hal yang menganggu aktivitas di BIL, Tajir mengiring massa yang dipimpinanya menuju kantor DPRD Lombok Tengah, yang berjarak 5 kilometer dari BIL. Mereka bergerak mengunakan kendaraan roda dua sambil membawa spanduk berisi tuntutan-tuntutan mereka.
Massa  menyuarakan 3 tuntutan utama mereka, pertama mendesak pihak Angkasa Pura I dan seluruh pihak yang kompeten dalam beroperasinya BIL, unutk terbuka terkait peluang kerja dan usaha yang dikelola di wilayah BIL.Mereka  menuntut keadilan dalam setiap rekrutmen tenaga kerja dan unit usaha di internal PT. Angkasa Pura maupun pihak ketiga yang ditunjuk,. Massa  meminta semua pihak menghormati adat istiadat serta nilai-nilai yang berkembang dan berlaku di wilayah lingkar BIL.

. Sepuluh perwakilan massa kemudian ditemui oleh pihak terkait, pihak DPRD dan Dinas Perhubungan Lombok Tengah serta General Manager Angkasa Pura I, I Ketut Erdi Nuke.  Dalam pertemuan itu Tajir mengharapkan ada keterbukaan dari pihak Angkasa Pura soal peluang kerja bagi warga lingkar Bandara. Bahkan untuk menghadapi itu pemuda-pemuda di wilayah lingkar bandara telah menjalani pelatihan di Desa Ketare dalam berbagai ketrampilan terkait dengan dibukanya BIL .

Menjawab semua itu, GM Angkasa Pura I, Erdi Nuke menjelaskan, bahwa pihaknya menampung semua yang dikeluhkan dan menjadi tuntutan warga. Tetapi dia tetap mengingatkan bahwa perpindahan bandara dari selaparang menuju Tanak Awu bukan berarti ada penambahan pegawai Angkasa Pura secara serta merta. “Angkasa Pura hanya memiliki 170 orang pegawai, sementara yang mencari nafkah di areal BIL melalui perusahaan mitra lainnya sebanyak 1.300 orang.

Tentu saja jika ada rekutmen pegawatia akan ada pengumuman secara terbuka” katanya. Dia juga berjanji akan melndaftar  nama-nama perusahaan pengerah tenaga kerja untuk Bandara, yang memang  telah terdata secara resmi di Angkasa Pura, unutk menghindari penipuan terhadap warga lingkar bandara dan sekitarnya. ( Inanalif / infosketsa ) .

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: