Revitalisasi Istana Tua Sumbawa

Berbicara tentang sejarah sebuah daerah, mungkin cara yang paling cepat adalah menelusuri peninggalan budaya yang masih tersisa dari daerah tersebut. Begitu pula jika kita ingin membuka catatan sejarah Kabupaten Sumbawa, kita masih bisa menemukan sejumlah monument yang masih tersisa misalnya Istana Tua  ( dalam Loka ) bekas istana Sultan Sumbawa. Dalam Loka adalah Peninggalan Kesultanan Sumbawa dan didirikan pada tahun 1885 semasa Sultan Muhamad Jalaluddin III (1883-1931) memerintah.Dalam Loka baru saja selesai direnovasi total dan memakan waktu cukup lama. Penobatan Sultan Sumbawa April 2011 lalu sekaligus sebagai tanda dibukanya kembali Istana Tua bagi pengunjung. Namun sayang, renovasi yang dilakukan beberapa waktu yang lalu tidak disertai dengan penggusuran bangunan atau rumah-rumah penduduk yang ada di kompleks Istana tersebut sehingga optimalisasi fungsi sebagai situs budaya tidak maksimal.

Pemkab Sumbawa sebenarnya sudah membentuk tim untuk melakukan pendekatan terhadap pemilik rumah agar mau pindah, tentu dengan sedikit ganti rugi. Namun upaya itu tidak lagi terdengar tampa alasan yang jelas. Menyadari akan pentingnya melakukan optimalisasi fungsi Istana Tua itu sebagai sebuah situs budaya, Pemerintah Provinsi NTB pada tahun anggaran 2011 mendatang akan meng-alokasikan sejumlah dana untuk revitalisasi Dalam Loka, agar kedepan situs budaya itu benar-benar berfungsi sebagai sebuah museum raksasa di Sumbawa Besar.

Wakil Gubernur NTB Ir.Haji Badrul Munir MM membenarkan kalau Pemprov NTB akan memberikan bantuan dana untuk revitalisasi Istana Tua itu. Menurut Wagub NTB Revitalisasi dimaksudkan secara fisik mengembalikan lingkungan Istana Dalam Loka dan Masjid Nurul Huda dalam satu kesatuan lingkungan, tak lagi terpisah seperti kondisi saat ini.

Untuk tahap pertama, akan dialokasikan anggaran Rp 5 Milyar, untuk penanganan pemagaran keliling, penataan lanskap dan pembangunan bangunan pendukung. Pemprov mengharapkan pembebasan bangunan dan lahan yang terkena dapat diselesaikan oleh Pemkab Sumbawa. Diharapkan ke depan komplek ini akan menjadi PUSAT PENGEMBANGAN KEBUDAYAAN SAMAWA, juga sebagai salah satu ICON wisata unggulan Sumbawa.  “ Saya harapkan seluruh komponen masyarakat Samawa dapat mendukung kelancaran pelaksanaan program ini, terutama dari pihak Pemkab Sumbawa, DPRD dan LATS “ harap Badrul Munir, ketika dihubungi lewat selulernya Rabu 11 Oktober 2011.

Dahulu ;  Istana Tua, Lenang Lunyuk dan Mesjid Nurul Huda menyatu dalam satu areal. Inilah yang diinginkan oleh berbagai kalangan termasuk Pemprov NTB untuk mengembalikan ke aslinya seperti masa lalu, sehingga tujuan menjadikan icon wisata unggulan benar-benar terwujud.

Istana Tua ini terdiri dari dua bangunan kembar yang ditopang oleh 98 tiang kayu jati dan 1 tiang pendek ( tiang guru ) yang terbuat dari kayu cabe, sehingga jumlah keseluruhan tiangnya adalah 99 mengambil jumlah sifat Allah SWT ( Asmaul Husna,’ ).

Jika melihat jumlah tiang yang mengabadikan sifat-sifat Allah itu, maka sudah bisa dipastikan bahwa sekitar masa itulah Raja Sumbawa beserta keluarga nya memeluk Agama Islam. Sebuah titah pun dikeluarkan Raja Sumbawa saat itu khusus dalam melaksanakan adat istiadat  bahwa “ ADAT BERSENDIKAN SARA’ dan SARA BERSENDIKAN KITABULLAH “ Yang diimplementasikan kedalam sebuah acuan kehidupan ; TAKUT KEPADA ALLAH dan MALU MELAKUKAN HAL–HAL YANG KURANG BAIK ( Taket Ko Nene’ – Ila Boat Lenge’ )

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: