Tanggapan Wagub NTB Terkait Ekspose Kerugian PT AP Operasikan BIL

Wakil Gubernur NTB

Komentar General Manager (GM) Bandara Selaparang yang kini bertugas di Lombok Internasional Airport (LIA) Ketut Erdi Nuke terkait kerugian PT Angkasa Pura (AP) I hingga Rp 35 miliar ketika mengoperasikan BIL, mendapat kritik pedas dari Wakil Gubernur (Wagub) NTB H Badrul Munir. Menurut wagub, pandangan mengenai kerugian ini akibat kurangnya pemahaman terhadap arti strategis NTB sebagai gerbang pariwisata nasional di koridor V dalam master plan perluasan dan percepatan ekonomi indonesia (MP3EI), serta konsep pembangunan nasional. Informasi mengenai kerugian ini, lanjut Wagub , juga perlu dipertanyakan, sebab berbeda dengan keterangan pimpinan tertinggi BUMN ini. ‘’Saya pernah tanya Dirut PT AP I, tidak merugi kok. Kita percaya dirut atau yang komentar,’’ tandasnya.

Bagi wagub, pandangan ini menunjukkan orang nomor satu di Bandara Selaparang dan saat ini memimpin pengelolaan BIL tidak memiliki pandangan sempit, seperti menggunakan kaca mata kuda. ‘’Mungkin yang ngomong itu hanya mampu mengelola Selaparang saja,’’ tandas pria kelahiran Sumbawa ini.

Tidak hanya itu, manajemen PT AP I juga tidak lepas dari kritik berbagai kalangan. Seperti yang dilontarkan tokoh muda NTB Lalu Agus Firat Wirawan. Dikatakan, permasalahan yang ada di BIL tidak hanya sekadar macet karena nyongkolan, dalam dunia pariwisata, persoalan kemacetan ini sudah diantisipasi dengan perhitungan time table yang baik. Ada hal yang jauh lebih besar yang selama ini dikhawatirkan masyarakat NTB khususnya masyarakat yang ada di Lombok Tengah. Seperti rekrutmen tenaga kerja yang spesifik mengarah kepada pemberdayaan masyarakat lokal. ‘’Counter-counter untuk transportasi, travel agent, taksi, dan beragam usaha masyarakat yang jadi pelengkap layanan di BIL saat ini murni tidak ada diisi pengusaha NTB,’’ jelasnya.

 Mulai dari proses pembangunan BIL ini juga bermasalah. Pekerjaan-pekerjaan pembangunan infrastruktur pendukung mulai dari yang paling sederhana seperti tanah urug, pengecoran beton, soal taman hingga pekerjaan yang sifatnya teknologi tinggi semua dimenangkan kontraktor luar. ‘’Tapi pada akhirnya, yang bekerja di lapangan adalah pengusaha lokal dengan status sub-kontraktor. Jika realitasnya demikian, kenapa mesti kontraktor luar yang dimenangkan? Berarti mereka cuma mengambil komisi (keuntungan, Red) saja,’’ tandas alumni paskasarjana Semiconducting Technology Institut Teknologi Georgia di Atlanta, Amerika Serikat ini.

Sebelumnya, GM Bandara Selaparang yang kini menjabat GM BIL Ketut Erdi Nuke mengklaim akan mengalami kerugian Rp 32 miliar sampai Rp 35 miliar per tahun jika BIL dioperasikan. Biaya operasional bandara baru ini lebih tinggi dibandingkan Bandara Selaparang. Bandara Selaparang juga belum mampu meraup keuntungan. Biaya operasional Bandara Selaparang sekitar Rp 35 miliar setahun. Sementara pendapatan yang diperoleh hanya sekitar Rp 32 miliar lebih sehingga masih rugi Rp 2 miliar lebih. Pendapatan Rp 32 miliar ini bisa dicapai Bandara Selaparang saat pengguna pesawat mencapai 1,4 juta lebih pada 2010, padahal kapasitas tampung hanya 800 ribu orang lebih. ‘’Keuntungan pengelolaan BIL dapat dicapai jika jumlah penumpang melebihi dua juta orang,’’ kata Nuke

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: