Gubernur NTB Usulkan Pengembangan 5 Kawasan Pariwisata

SBY Ketika Melakukan Penanaman Pohon di BILGubernur NTB DR. TGH. M. Zainul Majdi mengusulkan 5 kawasan pariwisata di NTB menjadi kawasan prioritas pengembangan pariwisata nasional dan kawasan pendukung pangan nasional. Kelima kawasan tersebut dua diantaranya berada di Pulau Sumbawa dan tiga lainnya di Pulau Lombok. Hal itu disampaikan gubernur dihadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada acara peresmian Groundbreaking Pengembangan Kawasan Wisata Mandalika Lombok oleh Presiden SBY, di Lombok Tengah, Jum’at 21 Oktober 2011 lalu.

Selain Mandalika, 5 kawasan tersebut diusulkan dalam rangka mendukung kebijakan MP3EI, dimana NTB bersama Bali dan NTT berada pada Koridor V yang diarahkan sebagai pintu gerbang pariwisata nasional dan pendukung pangan nasional,” ujar gubernur.
Sedangkan lima kawasan yang diusulkan tersebut adalah kawasan pariwisata Senggigi – Tiga Gili, Gunung Rinjani dan Global Hub Bandar Kayangan – Bayan di Kabupaten Lombok Barat dan Kabupaten Lombok Utara. Kemudian kawasan pariwisata dan megaminapolitan Teluk Saleh – Moyo – Tambora (Samota) di Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Dompu serta kawasan pariwisata Maluk – Jelenga di Kabupaten Sumbawa Barat.
Kawasan lainnya adalah kawasan pariwisata Hu’u Lakey di Kabupaten Dompu, termasuk kawasan pariwisata dan agroindustri Teluk Bima di Kabupaten Bima dan Kota Bima.
Dalam rangka mendukung ketahanan pangan nasional, gubernur menyampaikan, diperlukan percepatan pembangunan sarana dan prasarana seperti pembangunan bendungan Pandandure di Kabupaten Lombok Timur, Waduk Rababaka di Kabupaten Dompu dan Waduk Bintang Bano di Kabupaten Sumbawa Barat serta peningkatan dan pembangunan jaringan irigasi yang tersebar di seluruh daerah irigasi di NTB.
“Dengan mempercepat pengembangan investasi pada kawasan-kawasan prioritas tersebut diharapkan akan dapat memicu pertumbuhan wirausaha baru dan meningkatkan perekonomian masyarakat serta ketahanan pangan, baik secara regional di NTB maupun secara nasional,” ujar gubernur.
Lebih lanjut, gubernur mengungkapkan sejarah panjang pengembangan kawasan Mandalika yang dimulai tahun 1990. ketika itu kawasan pariwisata Mandalika dibawah management Lombok Tourism Development Corporation (LTDC) sebelum beralih ke Bali Tourism Development Corporation (BTDC). Saat itu, pihak LTDC membangun Hotel Novotel sebagai pelopor pengembangan di kawasan Mandalika.
”Novotel menjadi salah satu yang sangat diminati wisatawan, baik wisatawan nusantara maupun mancanegara. Hotel-hotel yang menyendiri dan terpencil lainnya, seperti Hotel Oberoi di Lombok Utara, Hotel Amanwana di Pulau Moyo – di Pulau Sumbawa, juga terus melakukan aktivitas bisnisnya dengan aman,” paparnya.
Gubernur juga melaporkan kepada presiden, dalam upaya pengembangan sarana dan prasarana di Kawasan Pariwisata Mandalika yang memiliki luas 1.175 ha ini telah menarik beberapa investor dan mitra strategis.
Para investor akan membangun fasilitas hotel bintang 5, sarana convention, fasilitas olahraga dan kesehatan, lagoon/marina serta memelihara dan mengelola kawasan sebagai kawasan pariwisata berkelas dunia guna mendorong diversifikasi ekonomi, dan penciptaan lapangan kerja, khususunya di Provinsi NTB.
Sedangkan konsep investasi pembangunan kawasan mandalika, adalah pengembangan yang memiliki nilai konservasi, sosial budaya dan nilai ekonomis tinggi dalam kontribusi perekonomian daerah dan nasional secara berkelanjutan.
“Pengembangan yang akan dilakukan bertahap dengan tematik event based destination dan akan dibangun spesific magnet yang akan mendorong minat wisatawan mancanegara maupun nusantara untuk datang ke NTB,” jelas gubernur.
Gubernur berharap, pemerintah pusat dapat memperhatikan aspirasi daerah, untuk mempercepat pembangunan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Nasional berdasarkan keunggulan dan potensi strategis masing-masing daerah.
Tentu saja dengan memfokuskan pada pengembangan sektor unggulan dalam mendukung Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), sebagaimana yang telah dicanangkan presiden pada tanggal 27 mei 2011 yang lalu.
Sementara itu, dalam sambutannya presiden menegaskan, jika ingin membangun kawasan Pariwisata Mandalika sebagai kawasan pariwisata unggulan, maka harus bisa menunjukkan berbagai potensi yang dimiliki. Seperti fasilitas yang dimiliki, keramah tamahan penduduk lokalnya dan ke-khasan unggulan pariwisatanya.
“Kalau ingin menjadi kawasan wisata unggulan, maka potensi yang dimiliki kawasan Mandalika Lombok, minimal harus sama jika dibandingkan dengan daerah atau negara lain,” ujar presiden.
Untuk itu, dibutuhkan persamaan persepsi baik oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat maupun pihak-pihak yang akan mengembangkan kawasan wisata Mandalika ini.
Presiden berpesan, bahwa dalam upaya mengembangkan suatu kawasan pariwisata tidak boleh melupakan kelestarian dan keramahan lingkungan. Potensi yang ada harus bisa dikelola dengan baik dan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan masyarakat.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Grounbreaking Pengembangan Kawasan Pariwisata Mandalika Lombok menandai dimulainya pembangunan Kawasan Mandalika sebagai Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Nasional (Kekparnas) dan menjadi kawasan prioritas dalam pengembangan sektor pariwisata nasional.
Peresmian ditandai penekanan tombol sirene oleh Presiden SBY didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Marie Elka Pangestu, Menteri BUMN Dahlan Iskan dan Gubernur NTB Dr. TGH. M. Zainul Majdi.
Pada kesempatan itu, Gubernur NTB menyerahkan buku Grand Desain Pengembangan Kawasan Pariwisata Mandalika Lombok kepada kepada Presiden. Selain itu, dilaksanakan juga penandatanganan sejumlah MoU dalam rangka pengembangan kawasan wisata Mandalika yang disaksikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Sedangkan sejumlah MoU yang ditandatangani pada peresmian Groundbreaking Pengembangan Kawasan Pariwisata Mandalika Lombok itu, antara lain kerjasama Bidang Pemanfaatan Lahan antara BTDC dengan MNC Group, kerjasama Bidang Pemanfaatan Lahan antara BTDC dengan PT Panasonic Gobel Indonesia, kerjasama Bidang Pemanfaatan Lahan antara BTDC dengan PT Rajawali Group dan kerjasama Bidang Pendidikan dan Pelatihan antara BLK Lombok Tengah dan Universitas Mataram dengan Poliklinik Negeri Bali dan Sekolah Tinggi Pariwisata Bali

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: