BALA’ REA atau DALAM LOKA

Bala’ Rea’ atau Dalam Loka

Dalam Loka atau dahulu disebut Bale Rea atau Rumah Besar yang berbentuk rumah panggung kembar, saat ini baru saja dipugar total hasil kerjasama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang, disangga 99 tiang jati yang melambangkan 99 sifat Allah (Asma’ul Husna). Istana ini selain untuk menempatkan raja pada posisi yang agung, juga sebagai pengganti Istana Bala Sawo yang hangus terbakar oleh letusan bubuk mesiu logistik kerjaan. Bangunan Bala Rea ini menghadap ke selatan. Beda dengan Bala-Bala sebelumnya yang menghadap ke Timur atau ke arah bukit Sampar dimana terdapat makam para leluhur kesultanan Sumbawa. Arah Bala Rea ini kemudian dipindahkan kearah selatan ( Polak Ano ), ketika Sultan dan keluarganya memeluk agama Islam. Hal itu dimaksudkan agar arah Bala Rea’ tidak menyamai posisi Mesjid yang menghadap ke barat ( Kiblat ) yang memaknai Dua Kalimah Syhadat.

Disebelah barat terdapat sebuah lapangan besar yang sebagian arealnya dibangun Mesjid Kerajaan. Mesjid yang sempat dikenal dengan Mesjid Makam ini, selain tempat melaksanakan Ibadah juga dijadikan tempat pengambilan sumpah dan janji para Sultan yang baru diangkat. Sekarang Mesjid ini sudah dipugar dan berganti nama dari Mesjid Jami’ ke Mesjid Agung Nurul Huda.

Sisa lapangan yang berada antara Mesjid dan Bala Rea’ dinamakan Lenang Lunyuk. Lenang sama dengan Lapangan dan Lunyuk sama dengan Besar. Kasarnya; Lenang Lunyuk adalah sebuah Lapangan Besar. Namun Lenang Lunyuk itu sekarang sudah hilang. Mesjid dan Bala Rea atau Dalam Loka itu hanya dibatasi sebuah jalan umum. Sekarang ada keinginan dari masarakat dan Pemerintah Kabupaten Sumbawa serta Pemerintah Provinsi NTB  untuk mengembalikan ke kondisi semula. Pemkab Sumbawa sudah membentuk sebuah team untuk merelokasi bangunan rumah penduduk yang terdapat di komplek Istana Tua itu, bahkan Pemprov NTB sudah mengganggarkan dana milyaran rupiah untuk hajat besar itu. Hanya saja realisasinya hingga kini belum terlihat.

Sementara bahan baku pembangunan istana Dalam Loka ini sebagian besar didatangkan dari pelosok-pelosok desa di sekitar istana. Khusus untuk kayu jati ukuran besar didatangkan dari hutan Jati Limung, dan Tiang Guru yang terbuat dari Kayu Cabe didatangkan dari Moyo, Moyo Hilir. Atapnya yang terbuat dari seng khusus didatangkan dari Singapura. Sedangkan pekerjaan pembangunan Bala Rea itu dipimpin oleh Imam Haji Hasyim.

Bala Rea ini memiliki banyak ruangan dengan fungsinya masing-masing. Antara lain sebagai berikut :

1. Lunyuk Agung, terletak di bagian depan. Merupakan ruangan tempat dilangsungkannya musyawarah, resepsi, dan serangkaian kegiatan penting lainnya.

2. Lunyuk Mas, adalah ruangan khusus bagi permaisuri, para isteri menteri dan staf penting kerajaan ketika dilangsungkan upacara adat. Letaknya bersebelahan dengan Lunyuk Agung.

3. Ruang Dalam sebelah barat, terdiri dari kamar-kamar yang memanjang dari arah selatan ke utara sebagai kamar peraduan raja ( Repan ) yang hanya di sekat kelambu dengan ruangan sholat. Di sebelah utara Ruang Dalam merupakan kamar tidur Permaisuri bersama dayang-dayang.

4. Ruang Dalam sebelah timur, terdiri atas empat kamar, diperuntukkan bagi putra/putri Raja yang telah berumah tangga. Di ujung utaranya adalah letak kamar pengasuh rumah tangga.

5. Ruang Sidang, terletak pada bagian utara (bagian belakang) Bala Rea. Pada malam hari ruangan ini digunakan sebagai tempat tidur para dayang.

6. Dapur terletak berdampingan dengan ruang perhidangan.

7. Kamar mandi, terletak di luar ruang induk, yang memanjang dari kamar peraduan raja hingga kamar permaisuri.

8. Bala Bule, letaknya persis di depan ruang tamu permaisuri ( Lunyuk Mas), berbentuk rumah dua susun. Lantai pertama yang sejajar dengan Bala Rea sebagai tempat putra/putri raja bermain, sedangkan lantai dua untuk tempat Permaisuri beserta istri para bangsawan menyaksikan pertunjukkan yang dilangsungkan di lapangan istana.

Diluar bangunan Bala Rea yang kini dikenal sebagai Dalam Loka, sebagai kesatuan dari keseluruhan komplek Istana ( Dalam ), pada zaman dahulu masih terdapat beberapa bagian penting istana, yakni Keban Alas ( kebun istana ), Bala Buko ( gapura ) tembok istana, Bale Jam ( rumah jam ), tempat khusus diletakannya lonceng kerajaan. Namun sekarang sudah hilang berikut bangunan nya dan tidak jelas hilangnya sejak kapan. Yang pasti Lonceng kerajaan, dipindahkan ke Bale Jam ( rumah lonceng ) didepan Istana Baru Sultan Sumbawa yang kini dikenal sebagai Wisma Praja.

Bala Rea’ ini dibangun pada masa Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III berkuasa yakni tahun 1883-1931.  Sultan Muhammad Jalaluddin Syah III adalah Sultan ke-16 dari dinasti Dewa Dalam Bawa. Ia mendapat peneguhan sebagai penguasa Sumbawa berdasarkan akte Pemerintah Kolonial Hindia Belanda tanggal 18 Oktober 1885 dan mulai saat itulah penjajahan kerajaan Belanda berlangsung secara efektif di wilayah kerajaan Sumbawa.

Karena kondisi Bala Rea’ yang dianggap sudah tidak layak ditempati oleh Sultan dan keluarganya, maka Belanda menghadiahkan sebuah Istana baru bagi Sultan yakni Wisma Praja sekarang yang dibangun tahun 1932. Semua perlengkapan dan harta milik Sultan kemudian dipindahkan ke Istana Baru. Tinggallah Bala’ Rea’ dengan kesendiriannya, tidak terurus dan jadilah namanya menjadi Dalam Loka’ atau Istana Tua.-

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: