APRESIASI SENI SEORANG BADRUL MUNIR

IR.H.BADRUL MUNIR MM

Minggu 18 April 2011, PUKUL 10.30, Ir. Badrul Munir MM wakil gubernur NTB, duduk di beranda Aula tari Taman Budaya NTB sambil menikmati sepiring rujak yang ia pesan dari seorang pedagang yang kebetulan lewat. Diruangan terbuka tidak begitu luas yang biasanya digunakan utk latihan tari itu, eberapa anak muda bergerak membentuk formasi lalu mulai bergerak gemulai dalam iringan rampak perkusi, denting gitar, gesekan violin dan tiupan serunai yang melengking nyaring. Gerakan merekapun semakin menghentak dinamis, seiring dengan teriakan yang menandai perubahan tempo dalam irama musik tradisi yang dipadukan dengan unsur musik modern itu. Beberapa rebana berbagai ukuran dan jimbe menghentak seperti ombak yang berkecipak lalu membantun di pantai. Beberapa anak muda lainnya yang tidak sedang berlatih berkerumun sambil bersenda gurau dengan suara riuh rendah. bahkan ketika para calon penampil itu sedang melantunkan Lawas (satu jenis pantun atau puisi Sumbawa), suasana menjadi sangat riuh dan segar. Tak ada kesan bahwa diruang itu sedang ada “pejabat penting”. Sang wakil Gubernurpun terkesan acuh saja dengan tingkah polah para remaja itu. Bahkan ia naik keatas bangku dan duduk di atas tembok pembatas seperti seorang supporter sepak bola yang memberi dukungan terhadap Tim kesayangannya.

Dengan raut penuh keseriusan namun santai, orang nomor dua di propinsi Nusa Tenggara Barat ini mengamati setiap gerakan anak-anak muda yang tengah berlatih mempersiapkan diri untuk acara pembukaan Festival budaya Samawa 2011 yang berlangsung di Mataram pada tanggal 4-8 Mei 2011 lalu. Sesekali ia berkomentar…”nah, ini khas irama orang pesisir. Unsur Bajo dan Melayunya cukup kuat,” ujarnya. Tidak hanya itu, iapun cukup dalam memaknai setiap ketukan, lekuk gerak dan ekspresi tersirat garapan tari kreasi samawa tersebut sebagaimana seorang seniman yang terbiasa mengedepankan sikap intuitifnya. Dengan lihainya iapun menerangkan beberapa karakter musikal dan unsur laten (deep structure) budaya Sumbawa layaknya seorang etnolog atau peneliti budaya yang melakukan studi mendalam tentang laku budaya sebuah aktus kebudayaan, lalu membandingkannya dengan unsur-unsur pembentuknya. Bagaimana misalnya ia menganalisis karakter Sumbawa pedalaman atau yang tinggal di pegunungan dan daerah-daerah pinggiran berikut ekspresi kesenian mereka serta laku hidup masyarakatnya.

Sebagai pribadi pak BM memang dikenal “doyan” baca. Sebelum beliau jadi Wagub, saya mengenalnya sebagai pelanggan disebuah kedai buku kecil yang menyediakan buku-buku bacaan alternatif seperti kesusastraan, filsafat, ilmu-ilmu budaya dan ilmu humaniora lainnya. kegemarannya membaca dan berdiskusi tersebut mungkin yang membuat wawasannya semakin terasah. beliau misalnya, sangat antusias terhadap segala aspek pemikiran dan membaca hampir semua tesis maupun disertasi tentang NTB.

BM juga sempat mengungkapkan soal “Rapor merah” yang diberikan segelintir mahasiswa yang dianggapnya tidak memahami persoalan dengan baik. sementara itu, fokus perhatiannya tetap tertuju pada kawan-kawan yang sedang berlatih. Terkadang beliau menempatkan diri sebagai kritikus budaya yang cukup kritis. “ Saya cukup prihatin melihat serombongan kelompok kesenian seperti gendang beleq misalnya yang diangkut dengan truk. Selain kerja keras dalam berlatih dan mengupayakan alat yang layak, mereka hanya mendapat upah bayaran yang sangat minim. Mereka (para pemain) juga masih harus menempuh berbagai resiko keselamatan dengan duduk berjubal diatas kap truk. Itu juga menunjukkan betapa rendahnya penghargaan kita atas tradisi yang kita miliki,” ungkapnya.

Saya pun mendengarkannya dengan cukup takjub. Begitu besar perhatiannya terhadap Seni-Budaya di NTB. Bahkan sekelas wakil Gubernur mau meluangkan liburan akhir pekannya untuk menunggui anak-anak yang baru belajar nari latihan. Bahkan beliaulah yang memberi masukan agar ada beberapa penambahan alat musik modern serta memberi usulan untuk sedikit merombak formasi penampilan tanpa mengurangi karakter dasar ciri khas Sumbawa. Tujuannya selain untuk membuat penampilan semakin dinamis dan atraktif juga untuk memberi penyegaran pada tafsir kesenian tradisi.

Banyak orang yang salah sangka sebab bila kita runut latar belakang pendidikan dan karir birokrasi pak BM jauh dari persoalan-persoalan kesenian. Dalam bayangan saya, sebagai seorang insinyur tekhnik bangunan, alumnus ITN Malang ini tentu akan bersikap kaku dan kurang memiliki apresiasi, apalagi sampai perhatian serta kepekaan yang begitu detail dan mendalam tentang dunia kesenian. Apalagi dalam karir politiknya ia juga tercatat sebagai salah seorang dewan pakar PKS, sebuah partai yang sering diasosiasikan kurang bisa menerima kesenian. Ternyata pendapat itu hanya mitos. Beliau justru memiliki keprihatinan, harapan dan cita-cita tersendiri pada perkembangan seni-budaya NTB. Beliau juga berharap bahwa seni-budaya NTB bisa lebih dikenal diluar daerah dan di luar negeri. Karena itu ia berjanji dan berencana akan membawa atraksi kesenian ini kebeberapa kota di Indonesia dan ke Luar Negeri.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: