CATATAN HUT KABUPATEN SUMBAWA KE 53 – 22 JANUARI 2012

Prosesi dan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) Kabupaten Sumbawa  tahun 2012  tidak lepas dari upaya mendesain  momentum yang bersifat sebagai wahana yang dapat menjadi ‘‘perekat’’. Yakni ‘’perekat’’ pada perspektif  tatanan kehidupan dan nilai-nilai untuk mengangkat citra dan harkat yang berakar pada  kultur dan budaya yang dapat memberikan progres dinamika yang signifikan pada domain kemajuan.

Secara seremonial HUT Kabupaten Sumbawa telah dikompilasikan dengan HUT NTB ke-53, yang penyelenggaraannya telah dilaksanakan pada tanggal 17 Desember 2011 yang  dipusatkan di Kabupaten Sumbawa. Patron yang dihembuskan dalam setiap sesi event-event kegiatannya adalah menancapkan  euphoria dalam semangat: ‘Bangga Jadi NTB’. Momen ini tidak lepas dalam pijakan kerangka untuk memperkuat isme ‘Ke-NTB-an’ sebagai simpul-simpul yang harus dikuatkan dalam kebersamaan dan ikhtiar untuk mampu menjawab tantangan-tantangan  ke depan bagi daerah NTB.

Rasa berjamaah itu tidak lain adalah untuk mengejar ketertinggalan dengan daerah-daerah (baca: provinsi) lain – tentunya. Muara jawabannya dengan  adanya keseimbangan dan kepentingan bersama yang dibangun secara seimbang, sehingga tidak memunculkan disparitas yang tajam.

Nuansa ini perlu dibangun dalam suasana kebersamaan. Karena saat ini tantangan-tantangan selalu menerpa wilayah kita, baik kondusivitas daerah dari sisi keamanan dan penyelenggaraan pemerintahan bahkan sampai dinamika politik yang berkembang.

Noktah-noktah titian perjalanan dalam aspek kewilayahan — dan Kabupaten Sumbawa menjadi bagian tak terpisahkan dalam perjalanan sejarah Provinsi NTB. Tentu dalam proyeksi kedepan terus berbenah dengan skema percepatan dan perluasan program pembangunan dengan memantapkan ikhtiar dalam  membangun Sumbawa yang berdaya saing dalam kultur yang berbudaya dan religius.

Kelahiran Kabupaten Sumbawa memang tidak lepas dari pembentukan Provinsi NTB sebagaimana telah diamanatkan dalam  Undang-undang Nomor 64 tahun 1958 dan Undang-undang nomor 69 Tahun 1958 sebagai tonggak sejarah terbentuknya Daswati I Nusa Tenggara Barat dan Daswati II didalam Provinsi Nusa Tenggara Barat. Terdiri dari Daswati II Lombok Barat , Daswati II Lombok Tengah, Daswati II Lombok Timur, Daswati II Sumbawa, Daswati II Dompu dan Daswati II Bima.

Sesuai dengan ketentuan pasal 7 ayat 1 Undang-undang nomor 68 tahun 1958 bahwa Kepala Daerah Swatantra Tingkat I Nusa Tenggara Barat menetapkan likuidasi daerah Pulau Sumbawa pada tanggal 22 Januari 1958 dilanjutkan dengan pengangkatan dan pelantikan Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Sumbawa Muhammad Kaharuddin III sebagai Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Sumbawa, dengan demikian tanggal 22 Januari 1959 dijadikan hari lahirnya Kabupaten Sumbawa yang ditetapkan dengan Keputusan DPRD Kabupaten Sumbawa Nomor 06/KPTS/DPRD tanggal 29 Mei 1990.

22 Januari 2012 — sebagai muatan usia 53 tahun Kabupaten Sumbawa, yang kali ini dalam kondisionalnya dihadapkan pada situasi yang sangat special. Karena menjadi (memasuki) setahun usia bagi pemerintahan Samawa Mampis Rungan dibawah duet kepemimpinan Drs. H. Jamaluddin Malik dan Drs. H. Arasy Muhkan,  dan setahun pula penetapan H. Daeng Muhammad Abdurrachman Kaharuddin, SE, MBA  sebagai  Sultan Sumbawa dengan gelar Sultan Muhammad Kaharuddin IV sebagai pengawal budaya Samawa yang bersifat demokratis, religius dan modern.

Tentu juga, kado-kado penting yang terilhami pada ulang tahun kali ini meliputi adanya proyek pembangunan yang bernilai fundamental dalam nilai-nilai strategis, seperti  Rumah Sakit Provinsi di Sumbawa dan Gedung DPRD Kabupaten Sumbawa, Pergantian nama Bandara Brang Biji menjadi Bandara Sultan Muhammad Kaharuddin   serta program-program lain yang berskala urgen sesuai dengan kepentingan kewilayahan dan kebutuhan publik.

Wilayah Kabupaten Sumbawa memiliki potensi sumber daya alam yang cukup besar dengan posisi geostrategis Kabupaten Sumbawa pada jalur lalulintas perdagangan Surabaya-Nusa Tenggara Timur dan berada pada koridor lima Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang berorientasi pada pembangunan pariwisata, perikanan dan peternakan.

Adanya potensi-potensi tersebut, baik potensi sumber daya alam dan penguatan-penguatan sumber daya manusia yang ada — kiranya menjadi kuat bargaining position ‘Tau Samawa’ dalam memasuki kancah kompetitif dan berdaya saing. Untuk mendayagunakan potensi tersebut dibutuhkan kristalisasi dalam membangun kebersamaan dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah yang ditopang oleh  seluruh komponen dunia usaha maupun masyarakat Sumbawa, sehingga dapat terwujudnya  masyarakat Sumbawa berdayasaing dalam memantapkan Samawa Mampis Rungan pada skala waktu  2011-2016 yang akan menjadi peta aksi dari implementasi pembangunan Sumbawa 5 tahun kedepan.

Menuju Sumbawa Bersaing

Kabupaten Sumbawa memiliki luas wilayah 23,44% dari luas NTB yang menurut hasil sensus penduduk tahun 2010 memiliki jumlah penduduk 415.363 jiwa. Proporsi penduduk usia muda (14 tahun) berkisar antara 30,13% sampai 33,435 dengan rata-rata 31,79%, usia muda/produktif (15-65 tahun) berkisar antara 62,69% sampai 64,68% dengan rata-rata 64,34% dan usia lanjut (65 tahun keatas) berkisar antara 3,10% sampai 3,87% dengan rata-rata 3,86%.

Penduduk yang mendiami Kabupaten Sumbawa terdiri dari berbagai etnis yang ada di seluruh Nusantara, sehingga sering disebut sebagai ikon ‘Miniatur Indonesia’. Proporsi etnis Samawa ada 66,66%, etnis Sasak 13,76%, etnis Bugis/Makassar 3,24%, etnis Dompu 0,13%, etnis Bima 2,78%, etnis Bali 2,70%, etnis Jawa 3,26%, etnis Sunda 0,19 dan etnis-etnis lainnya 7,28%.

Dalam rangka mewujudkan masyarakat Sumbawa berdayasaing dalam memantapkan Samawa Mampis Rungan, arahnya dilakukan dengan program pembangunan yang berorientasi pada pengembangan masyarakat yang religius, berbudaya, menghargai pluralitas, kesetaraan gender dan kesadaran hukum; menyelenggarakan pelayanan dasar di bidang pendidikan, kesehatan dan kesejahteraan sosial; meningkatkan pelayanan publik dan penyelenggaraan tata pemerintahan daerah yang baik; mempercepat pengembangan ekonomi daerah berbasis agrobisnis melalui percepatan pembangunan infrastruktur, pengembangan kawasan strategis, penguatan kelembagaan ekonomi lokal dan peningkatan investasi;dan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup yang berkelanjutan.

Bangga Menjadi “Tau Samawa”

Tentu, menjadi ekspektasi kita semua dalam membangun visi-misi  ini kedepan — sebagai bagian dari masyarakat Sumbawa (Tau Samawa) terus secara bersama-sama membangun komitmen yang kuat untuk mengambil tindakan nyata dalam gerak geliat pembangunan sesuai dengan fungsi dan kapasitas masing-masing, sehingga pelaksanaannya berjalan damai dan tenang (Senap Semu) diseluruh wilayah Kabupaten Sumbawa (Tana Samawa).

Sebagai aplikatif dari tujuan mulia tersebut, sesuai dengan kultur-kultur yang diwarisi oleh pendahulu-pendahulu terdahulu (Tau Loka) selalu ditanamkan nilai-nilai kehidupan yang menggambarkan kekeluargaan dan familiar dalam senasib sepenanggungan yang dilandasi dengan jiwa saling menghormati dan menghargai, yang dikenal dengan Filosofis: Saling Beri – Saling Pendi – Saling Satingi.

Semoga dengan usia yang cukup dewasa dan matang ini akan membawa  Kabupaten Sumbawa menjadi daerah yang penuh harapan dalam pelahiran kondisi daerah yang kondusif, makmur dan sejahtera yang sekaligus melekatkan filosofis Tau Samawa yang akan memperkokoh Kebanggaan menjadi   Tau Samawa  — sehingga penguatan eksistensi diri  mampu menjiwai gerakan yang membawa kedamaian dan kemesraan dalam kebersamaan dengan sama-sama: ‘Tu Satingi Ke Saling Satingi’ dibawah naungan Ridha Allah….

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: