SUKU CEK BOCEK TIDAK DIKENAL OLEH MASYARAKAT SUMBAWA

SULTAN SUMBAWA

Keinginan sebagian kecil masarakat Sumbawa agar Pemerintah dan Sultan Sumbawa dapat mengakui keberadaan sebuah suku yang mereka namakan Suku Cek Bocek, kandas sudah ; ketika Sultan Sumbawa menyampaikan titahnya melalui sebuah pernyataan. Pemerintah Kabupaten Sumbawa pun sejak awal tidak mengakui keberadaan mereka bahkan Bupati Sumbawa Jamaluddin Malik secara terang-terangan dalam setiap kesempatan menyebut suku cek bocِek itu adalah ilegal atau tidak ada.

Sultan Sumbawa pun tidak tinggal diam. Beliau lalu mengeluarkan Pernyataan resmi yang dibacakan Ketua LATS Mahmud Abdullah pada Pertemuan antara Sultan Sumbawa yang diwakili oleh Lembaga Adat Tana Samawa (LATS) dan masyarakat cek bocek yang difasilitasi oleh Komisi I DPRD Sumbawa Hari Senin 15 Januari 2012.

 Berikut kutipan isi dari Surat Sultan Sumbawa:

 1). Berdasarkan keputusan Mudzakarah Rea tahun 2011 adalah menjaga, memelihara, merevitalisasi dan mengaktualisasikan adat istiadat dan budaya masyarakat adat sumbawa sehingga tetap lestari dan aplikatif untuk mencapai masyarakat yang religius, modern dan demokratis sesuai kondisi dan kemajuan zaman.

2). Dalam melaksankan tugas, fungsi dan tanggungjawab, Sultan dan LATS tidak menyentuh pelaksanaan tata pemerintahan sesuai hukum yang berlaku dan diatur di dalam Negara Kesatuan Republik Indoensia (NKRI).

3). Wilayah adat LATS merupakan wilayah Kesultanan Sumbawa yang didiami oleh masyarakat adat Samawa dari Tarano (Kabupaten Sumbawa ) sampai Sekongkang (Kabupaten Sumbawa Barat). Dan siapapun yang berada di dalam wilayah tersebut dilindungi oleh Sultan dan LATS. Oleh karena itu diharapkan kepada seluruh masyarakat Tau dan Tana Samawa agar senantiasa menjunjung tinggi adat istiadat dan budaya Samawa di bawah payung Kesultanan Sumbawa.

4). Semua kegiatan budaya yang menjadi adat istiadat khusus dari pelbagai masyarakat di dalam wilayah Adat Tana Samawa juga menjadi bagian dari adat istiadat Tana Samawa sepanjang tidak bertentangan dengan Syariat Islam dan ketentuan perundang-undangan yang berlaku dalam NKRI.

5). Sultan dan LATS berharap agar setiap permasalahan didialogkan dengan cara-cara kebersamaan Tau Samawa dengan mengedepankan prinsip-prinsip (to’), (ila’) saling satingi, saling pedi, saling harga antara semua pihak yang berdialog dan bermusyawarah dengan senantiasa memelihara pikiran jernih, jujur, ikhlas untuk ‘kerik salamat Tau ke Tana Samawa. Takit Ko Nene’ Kangila Boat Lenge’.

6). Kami berharap kepada seluruh masyarakat adat Samawa agar senantiasa menjaga dan memelihara nilai-nilai keSumbawaan yang berfalsafah Adat Barenti ko Syara, Syara Barenti ko Kitabullah, menjaga rasa persaudaraan dan kebersamaan, tidak mudah terprovokasi oleh kepentingan-kepentingan pihak luar yang tidak betanggungjawab. Tanamkan pelihara selalu rasa sikap, bahwa kita cinta dan sayang terhadapSumbawa.

 Demikian pernyataan ini untuk dijadikan pedoman bersama bagi seluruh Tau dan Tana Samawa. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing dan meridhoi kita semua. Amin Allahuma Amin.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: