MAHASISWA STKIP BIMA YANG DIKELUARKAN PAKSA DARI TAHANAN,MENYERAHKAN DIRI

PUING KTR.BPT.BIMA DIJAGA TNI

Lima dari sembilan Mahasiswa STKIP Bima yang di tahan di LP Bima dan dibebaskan secara paksa oleh ribuan massa setelah membakar Kantor Bupati dan KPUD Bima, hari ini dilaporkan menyerahkan diri secara sukarela ke Polres Bima. Kelima mahasiswa itu bersama empat rekan lainnya ditahan karena diduga melakukan tindak pidana di Kantor DPRD Bima Desember 2011 lalu. Pihak Polres Bima menghimbau kepada empat mahsiswa lainnya untuk segera menyerahkan diri, begitu pula terhadap puluhan tahanan kasus Sape yang dikeluarkan paksa oleh massa untuk kembali menyerahkan diri.

Sementara suasana di Lambu Bima masih sedikit mencekam,khususnya dimalam hari,karena sampai sekarang jalan-jalan utama diwilayah itu masih diblokir warga karena mendengar kabar pihak Kepolisian akan menyisir rumah-rumah penduduk untuk mencari provokator kasus pembakaran Kantor Bupati dan KPUD Bima.

Sementara warga dari tiga kecamatan di Kabupaten Bima yang selama ini gencar menolak usaha pertambangan emas PT Sumber Mineral Nusantara, siap berdamai. Mereka kini bersedia duduk satu meja dengan pemerintah kabupaten pasca insiden pembakaran kantor bupati, 26 Janauri 2012 lalu. “Kami akan rapat akbar dengan Pemkab Bima untuk rekonsiliasi setelah berbagai kejadian terkait penolakan usaha pertambangan,” kata Mulyadin, juru bicara Front Rakyat Antitambang FRAT , hari ini  Ahad 29/1 di Bima.

FRAT  adalah asosiasi yang menjadi motor penggerak unjuk rasa warga dari tiga kecamatan di Bima: Kecamatan Lambu, Sape, dan Kecamatan Langgudu. FRAT menghendaki rapat akbar dengan agenda rekonsiliasi itu dapat dihadiri unsur Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat dan pemerintah pusat. “Kami ingin ada rekonsiliasi antara warga dengan pemerintah daerah. Cukup sudah berbagai kejadian yang telah terjadi, anggap saja itu sejarah dalam perjalanan Kabupaten Bima,” ujarnya.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: