SEBUAH OPINI TENTANG BATU GONG

RATNA SUSILAWATI

 Mengikuti perkembangan Batu Gong, membuat saya agak sedih dan kecewa juga. Walau tidak menetap di Sumbawa, namun sebagai salah satu seorang putera sumbawa yang lahir di sumbawa, keberadaan Batu Gong dengan kisah kemaksiatannya cukup membuat saya masygul.

Bagaimana tidak..Saya meninggalkan sumbawa sejak kecil, sekitar tahun 1992, dan kembali sesekali untuk silaturrahim. Dalam kurun waktu tersebut hingga saat ini, tidak banyak perubahan jika dikaitkan dengan pembangunan fisiknya. Galak jango masih seperti dulu, pertokoan dengan rombong soto juga demikian adanya. Sangat mudah mengenali Sumbawa dulu dan sekarang, tidak pangling sama sekali.

Namun, keberadaan batu gong kemudian membawa cerita baru..Cafe remang-remang muncul dengan segala macam aktifitas yang selama ini hanya bisa kita dengar dari televisi atau dari kunjungan ke kota besar. Seorang penjaga cafe, yang kebetulan tinggal di kampung saya di samapuin Sumbawa Besar, terkenal suka mabuk-mabukan, bahkan mulai menularkan kebiasannya pada pemuda sekitar..Lalu seorang teman bercerita dengan lugasnya, tentang banyaknya “tenaga impor” dari jawa, yang diperbantukan di cafe, dengan tugas “melayani” yang multi fungsi..Kemudian, banyak bilik2 semi permanen, yang banyak didirikan di sekitar cafe, yang menjadi tempat berlangsungnya kemaksiatan.

Banyak yang marah, merasa miris dengan dengan keadaan ini. Tanggal 1 Maret 2012 yang katanya akan menjadi hari penertiban Cafe Batu Gong, menurut info yang saya baca di page komunitas Peduli Desa Darat  ini, hanya membawa sederet perjanjian, dengan kesimpulan cafe Batu Gong tetap berjalan seperti biasa.

Saya maklum, pasti ada pihak yang merasa rugi jika Batu Gong benar2 ditertibkan. Merasa rugi, karena tidak akan mendapatkan keuntungan lagi dari Batu Gong. Keuntungan, yang tak peduli berasal dari mana, apakah itu dari perbuatan yang menyokong dosa dan maksiat atau tidak.
Keuntungan, yang hanya melihat pada sisi diri sendiri, tanpa memikirkan imbasnya bagi masyarakat, terutama generasi muda penerus kepemimpinan di sumbawa. Asal kantong terisi, yang lainnya tak peduli.

Dalih berdirinya cafe demi perkembangan ekonomi yang akan mendukung pembangunan, menurut saya bukan alasan yang tepat jika harus mempertaruhkan budaya, moral dan akhlak masyarakat. Dalih pemusatan kegiatan kemaksiatan, seperti halnya di senggigi, juga susah untuk bisa saya terima. Membuat sumbawa menjadi maju, tidak bisa seperti itu, karena Allah melarang kita berbuat maksiat, sehingga mustahil jika Ia akan memberikan keselamatan dan kesejahteraan jika cara kita mencapainya sudah tidak sesuai dengan aturanNya.

Masih ada kesempatan untuk memperbaiki sumbawa, membangunnya menjadi daerah yang maju pembangunan, sekaligus akhlaknya. Bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk generasi penerus, yang saat ini masih lugu, polos, belum mengerti apa-apa. Setidaknya kita bisa mengurangi beban permasalahan yang akan mereka hadapi saat besar nanti. Akan ada waktunya kita menjadi tua, dan melihat anak-anak kita menggantikan peran kita sekarang. Saat itu bisa jadi kita akan menyesali, kenapa kita tidak memberikan kondisi yang lebih baik untuk masa depan mereka, untuk kebaikan akhlak dan moral mereka.

Hanya sekedar opini bagi kemajuan desa darat kita. Samawa tempat saya lahir, menghabiskan masa kanak-kanak bersama orang tua.
Semoga akan sabalong samalewa selamanya..amiin

Penulis : Ratna Susilawati, Pegawai Direktorat Jenderal Perbendaharaan, Departemen Keuangan, RI

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: