KOMENTAR SEPUTAR GAGALNYA EKSEKUSI CAFÉ BATU GONG SUMBAWA

WANITA PENGHIBUR DI CAFE BATU GONG

Gagalnya eksekusi café Batu Gong Sumbawa Tanggal 1 Maret 2012 sesuai  keputusan Bupati Sumbawa no.416 tahun 2012 adalah untuk ” MENJAGA KONDUSIFITAS DAERAH ” Istilah dan alasan ini sebenarnya sudah lama didegungkan oleh Bupati Sumbawa Drs.Haji Jamaluddin Malik sehingga kasus café Batu Gong yang sudah sangat meresahkan masarakat itu terkesan mengulur waktu. Untuk alasan itulah Pemerintah Kabupaten Sumbawa memberi surat peringatan kepada para pengusaha/pengelola café Batu Gong.


Pada hari yang telah ditentukan untuk eksekusi penutupan aktifitas café Batu Gong Kamis 1 Maret 2012 masarakat Sumbawa menaruh harapan besar kepada pemerintah untuk bertindak tegas. Namun harapan itu terbayar dengan kekecewaan yang luar biasa.

Jam 10 pagi hari Kamis itu, Bupati dan anggota Muspida mengadakan rapat membahas pelaksanaan eksekusi yang direncanakan jam 5 sore hari itu. Dengan dalih  ” MENJAGA KONDUSIFITAS DAERAH ” maka rapat itu memutuskan untuk memberi kesempatan kepada pemilik dan pengelola café untuk melakukan aktifitasnya sesuai dengan izin yang diberikan oleh Pemkab Sumbawa yakni rumah makan atau restoran.

“ Menyimak alasan tsb. dapat saya artikan bahwa Bupati, Muspida dan seluruh aparatnya merasa takut akan terjadi kekacauan dan keributan, jika benar-benar melaksanakan eksekusi tsb.  Saya heran,karena justeru yang harus ditakutkan adalah marahnya masarakat  Sumbawa yang bisa-bisa mengambil jalan pintas untuk melakukan aksi  menutup café-café maksiat itu “ ujar Hasanuddin warga Kelurahan Uma Sima.

Lain lagi harapan Marga Rayes warga Pemanto Daeng Sumbawa Besar. Ia mengajak warga masarakat untuk cooling down dulu. Penertiban akan terus berlanjut dilaksanakan oleh pemda sumbawa sesuai dengan  SK yang  sudah dikeluarkan. “ Kita tunggu saja perkembangannya ke depan “ ujarnya. Menurut nya , ada dua nilai positif kalau pengelola café itu beroperasi sesuai dengan izin yang diberikan. Pertama, sudah berhasil meluruskan yang bengkok. Artinya, amar ma’ruf nahi munkarnya tercapai. Kedua, wilayah batu gong bisa menjadi tujuan wisata keluarga.

Harapan itu disambut positif oleh Muhammad Isnaini, seperti yang ditulis di acount facebook Komunitas Peduli Desa Darat. Seyogya nya kita harus memberikan kesempatan kepada pemda kabupaten sumbawa untuk melakukan hal terbaik terkait dengan persoalan batu gong.Peran kita masyarakat marilah kita mengajak teman-teman kita untuk tidak mendatangi tempat tsb jika masih melakukan aktifitas yg jika di anggap kurang baik. Ajaknya.

Namun sebagian warga menyebut persoalan café batu gong adalah pengawasan dan tindakan pemda Sumbawa yg tidak tegas. Hajidawe Ponggawajaran mengatakan, awalnya Cafe itu untuk rumah makan biasa. Tapi karena tidak ada pengawasan dan tindakan, akhirnya pemilik cafe seenaknya bahkan ada yang memilhara PSK.

Seorang wartawan media lokal di Sumbawa Indra Jaya malah lebih keras menanggapi kelemahan Pemkab Sumbawa dalam menangani café batu gong itu. Menurut nya gagal nya eksekusi itu membuktikan bahwa manusia yang menganggap dirinya pemimpin ternyata tidak layak jadi pemimpin bahkan tidak boleh dipercaya lagi untuk memimpin. Ibarat makanan yang sudah dimuntahkan dimakan kembali. Jelas dan tegas pemimpin Sumbawa itu adalah macan ompong. Bupati Sumbawa bahkan berkali-kali mengatakan tidak ada lagi toleransi aktifitas Kafee Batu Gong harus di tutup setelah penguasa Sumbawa itu mengeluarkan surat peringatan terakhir.

Indra Jaya bahkan mencibir pengakuan Bupati Sumbawa yang  telah mendapat teguran dari Gubernur NTB  sebanyak dua kali. Namun kenyataannya dia tidak punya nyali untuk memberantas kemaksiatan di café batu gong itu. “ Teguran Gubernur itu dianggap angin lalu saja “ tegas Jaya sembari mengajak seluruh elemen masarakat untuk turun kejalan untuk menuntut Bupati Sumbawa melaksanakan kebijakannya itu.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: