KISAH SUKSES SEORANG SUKMAYADI

DRS.SUKMAYADI WAHID ( BAJU KAOS ) BERSAMA ADMIN SITUS INI

Kisah sukses banyak orang adalah sebuah pengalaman yang asyik untuk disimak bahkan bisa dijadikan motivasi untuk pengembangan diri. Dari sekian banyak orang yang sukses meniti karir, mungkin sedikit diantaranya yang meraihnya dengan gampang. Ia mesti bersusah payah, bekerja keras dan memiliki motivasi yang sangat tinggi untuk sebuah keberhasilan. Kebanyakan pula dari mereka kadang datang dari keluarga yang kurang mampu atau orang-orang yang terpinggirkan dalam masyarakat.

Tersebutlah sebuah keluarga yang terpaksa merantau ke Sumbawa ditahun enam puluhan untuk mengadu untung dalam hidup. Mereka adalah Abdul Wahid kelahiran Selayar Sulawesi tahun 1932 yang menikah dengan Meriningsih putri seorang kliang di Praya Lombok Tengah dengan 11 orang anak. Awalnya pemuda Abdull Wahid berbekal ijazah SGB di selayar menjadi seorang guru sukarela di Praya dan ketika diangkat menjadi Guru Negeri ia kemudian ditugaskan ke salah satu daerah di Timor. Wahid menolak dan memilih batal menjadi guru negeri ketimbang harus membawa isterinya ketempat tugas baru.

Akhirnya pemuda Wahid berjuang hidup di Praya sebagai tukang gigi, sebuah keterampilan yang diturunkan oleh keluarganya semasa ia di Selayar. Bersama isteri tercinta Abdul Wahid kemudian hijrah ke Sumbawa Besar, mengamalkan keterampilannya sebagai tukang gigi keliling sambil menggelar dagangan dengan membuka lapak kecil di pasar Seketeng Sumbawa Besar. Berbagai barang kebutuhan dijualnya, mulai dari makanan hingga ke barang lainnya seperti sepatu, sandal, radio dan lain-lain. Usaha keluarga ini semakin berkembang dan anak-anak mereka pun kemudian membuka lapak baru di pasar Seketeng.Keberhasilan mereka tidak lepas dari motivasi kedua orang tuanya yang memiliki prinsip tiada hari tampa bekerja dan berusaha.

Seorang dari sebelas bersaudara keluarga ini ternyata memiliki motivasi lain setelah bergelut dengan dagangannya dan termotivasi oleh lika liku kehidupan dan didikan ayahandanya. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi, mengambil strata 1 bidang pendidikan dan lulus. Saat itu, satu-satunya pedagang di pasar Seketeng yang bergelar doktorandus. Namun ternyata gelar itu tidak merubah hidupnya, ia tetap menjual es lilin, radio dan sandal di pasar Seketeng.

Tahun 1982 Ia pun mencoba peruntungan baru dalam menapaki kehidupannya, mulai dari mengabdikan diri sebagai tenaga pengajar di SMA Samawa dan SMA PGRI Sumbawa Besar hingga menjadi staf pengajar dibeberapa lembaga kursus di Sumbawa Besar. Tahun 1989 hingga 1992 ia mengajar lagi di SMEA Mercuri Sumbawa Besar. Dan yang tidak kalah menariknya ketika ia mencoba melamar menjadi PNS namun dari lima kali melamar ia selalu gagal. Namun baginya kegagalan adalah awal keberhasilan yang tertunda.

Beberapa tahun lamanya ia berkutat dengan dunia pembinaan generasi muda dan dari pengabdiannya ini, banyak diantara binaannya yang sudah berhasil memperoleh gelar dan mandiri dalam kehidupannya. Setelah gagal menjadi PNS ia selalu menyuarakan kepada semua binaan dan murid-murid nya agar menuntut ilmu itu jangan berniat untuk menjadi PNS namun dengan ilmu yang didapatkan, kita harus mampu merubah kehidupan kita dari tiada menjadi ada dan bermamfaat bagi orang lain.

Itulah motivasi yang terpatri dalam diri seorang anak manusia bernama Sukmayadi Wahid Drs yang akhirnya mengantarkan dia sebagai seorang senior pengawas pada pada lembaga pendidikan luar sekolah ditanah air melalui program Pendidikan dan Pengembangan Anak Usia Dini PPAUD Kementerian Pendidikan Nasional RI di Provinsi NTT.

Karirnya dibidang pembinaan masarakat ini diawali Drs.Sukmayadi Wahid tahun 1992 sebagai tenaga pembina peningkatan kesehatan masarakat sebuah lembaga sosial masarakat bekerjasama dengan Aus Aidd Australia. Kemudian tahun 2002 hingga 2007 bekerja di  Water Supply and Sanitation Project for Low Income Communities, atau biasa disebut sebagai WSLIC dibeberapa wilayah di Kabupaten Sumbawa, kemudian tahun 2008 hingga 2009 pindah bekerja di Community Water Services and Health Project CWSHP di Pontianak Kalimantan Barat.

Sukmayadi Wahid yang akrab dipanggil Mamik Sukma ini menikahi Sri Ningsih, seorang gadis di Kelurahan samapuin Sumbawa Besar tahun 1992 dan sekarang dikaruniakan dua orang anak, yakni Putri Andi Risma Mawaddah dan Andi Leyla Azizah.

Ketika bertemu penulis di Sumbawa Besar beberapa hari yang lalu, Ia menyatakan syukurnya kepada Allah SWT bahwa apa yang dicita-citakan ayahandanya dahulu sudah dapat dilaksanakan, bahkan tugas mengajar ke Timor yang ditolak orang tuanya sudah terbayar dengan pengabdiannya sekarang di NTT.

Abdul Wahid, sang ayahanda meninggal dunia Agustus 1998 yang lalu di Sumbawa Besar,sementara ibundanya sampai saat ini masih berjualan kerupuk dan makanan lainnya di Pasar Seketeng Sumbawa Besar.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: