PASAR SEKETENG SEMRAUT,PEMKAB SBW TIDAK TEGAS

SATPOL PP MELAKUKAN AKSI PENERTIBAN

SEKETENG Seperti halnya pasar tradisonal di Indonesia, pasar Seketeng di Sumbawa Besar NTB juga memiliki persoalan kesemrautan yang sepertinya sulit diatasi. Entah sudah berapa kali aparat Pemkab Sumbawa dalam hal ini Pol PP setempat melakukan penertiban, namun hasilnya jauh dari yang diharapkan.

Sejumlah pengamat mengatakan bahwa Pemkab Sumbawa tidak memiliki konsep yang jelas tentang pengaturan pedagang di pasar Seketeng. Sebut saja, tegas Abdul Hamid warga Seketeng, pasar yang sudah dibangun baru dengan lapak-lapak permanent tidak terisi sepenuhnya dengan pedagang. Yang terjadi, justeru pedagang lebih suka membuka dagangannya diluar bangunan pasar. Abdul Hamid memberi contoh, halaman depan pasar yang diperuntukkan untuk parkir kendaraan baik sepeda motor maupun angkutan pedesaan ( seperti sebelumnya ) dipenuhi oleh lapak-lapak pedagang sehingga parkir kendaraan terpaksa menggunakan bahu jalan didepan pasar yang berakibat rawannya kemacetan.

Ketidak jelasan konsep pengaturan pedagang Pasar Seketeng ini juga dialami pedagang Soto Madura dan es buah yang yang sudah berjualan belasan tahun didalam pasar Seketeng. Ketika Pasar mulai direhab dan dibangun baru oleh PT.Newmont hampir dua tahun lalu, mereka diungsikan ke dua titik diluar pasar yakni didepan Mushollah Al-Ikhsania dan di jalan Thamrin Kelurahan Seketeng tidak jauh dari lokasi pasar.

Menurut Haji Ru’I seorang pedagang es buah, mereka dipindahkan hanya sementara dan setelah pembangunan pasar Seketeng selesai akan ditempatkan kembali ke dalam pasar. “ Namun yang terjadi, sampai saat ini kami tidak mendapat tempat didalam pasar dan malah kami akan dipindahkan ke pasar Brang Bara “ ketusnya sangat kecewa.

Semrautnya pasar Seketeng ternyata tidak lepas dari kebijakan yang diterapkan Kepala Pasar yang dinilai tidak adil. “ Pedagang lama digusur dan pedagang baru dimasukkan “ tegas Maman seorang pedagang sembako. Menurutnya, Kepala Pasar lebih suka menerima orang baru karena mereka membayar sejumlah uang sedangkan yang lama terpaksa ditendang karena tidak mungkin membayar.

Penjelasan Maman tadi dibenarkan oleh salah seorang anggota Satpol PP ketika melakukan penertiban hari ini Senin 13 Maret 2012. “ Kami sulit melakukan penertiban dan pengosongan halaman pasar karena para pedagang beralasan sudah membayar kepada Kepala Pasar “ ujar anggota Satpol PP itu yang minta namanya jangan ditulis.

Pemerintah Kabupaten Sumbawa sepertinya kurang serius mengatasi kesemrautan Pasar Seketeng, walau sejumlah elemen masarakat dan DPRD Sumbawa berkali-kali meminta agar Pemkab Sumbawa bisa lebih tegas lagi mengatasi kasus ini. “ Saya sangat kecewa dengan sikap Pemkab Sumbawa yang tidak mampu berbuat padahal mereka tau persoalannya terletak pada kebijakan Kepala Pasar. Mungkin Bupati takut dengan Kepala Pasar atau pejabat Pemkab Sumbawa takut kehilangan ATMnya dari sebagian pendapatan Pasar Seketeng “ ujar Samidin penduduk Kelurahan Seketeng.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: