DINASTI DALAM BAWA DENGAN TITAH PERUBAHANNYA

MAKAM SAMPAR

Makam Sampar ; bagi sebagian masarakat Sumbawa, mengenalnya sebagai sebuah situs sejarah, karena di Makam Sampar inilah dimakamkan Raja-Raja Sumbawa dimasa lampau. Namun memperihatinkan, bahwa situs bersejarah ini tidak mendapat perhatian terutama darai Pemerintah untuk pemeliharaan nya.

Makam Sampar ini terletak didiatas sebuah bukit diwilayah Kelurahan Seketeng atau tidak jauh dari BTN Bukit Permai Sumbawa Besar. Juga bisa dicapai  dari Keban Lapan melalui jalan setapak mendaki bukit yang terjal. Karena itulah diberi nama Makam Sampar karena berada diatas bukit atau dalam bahasa Sumbawa “ Sampar “ .

Jika kita berkunjung ke Makam Sampar, maka akan terlihat batu-batu panjang seolah terpahat, disusun sebagai  pembatas dengan kawasan lainnya. Batu-batu tersebut disusun sedemikian rupa hingga mencapai 1 meter. Begitu pula dengan makam raja dan keluarganya. Batu-batu panjang terlihat mengitari setiap makam dan konon menurut cerita bahwa batu-batu itu sengaja dibuat dan dibentuk seperti yang ada sekarang untuk membedakan makam atau kuburan raja dengan kuburan orang kebanyakan. Batu-batu itu dibuat disebuah tempat diwilayah Kerajaan Ai Renung tepatnya di Lembah Olat Rejeng wilayah Kecamatan Moyo Hulu sekarang. Diwilayah itu dahulunya dikenal banyak pengrajin batu-batu nisan yang mempersembahkan karyanya untuk Sultan dan keluarganya.

Keberadaan Makam Sampar, selama ini kurang mendapat perhatian minimal tentang raja-raja mana saja yang dimakamkan ditempat itu. Masarakat Sumbawa hanya mengetahui Makam Sultan Muhammad Kaharuddin III yang dimakamkan dibelakang Mesjid Nurul Huda Sumbawa Besar. Selebihnya masih misteri sampai sekarang,sehingga Makam Sampar bisa dipastikan sebagai tempat dimakamkan sebagian besar raja-raja Sumbawa.

Lalu keberadaan Makam Sampar jika dikaitkan dengan Istana Sultan ternyata saling berkaitan satu sama lain. Jika orang berdiri di Makam Sampar menghadap ke barat dahulu kala, maka langsung akan melihat kemegahan Istana Sultan Sumbawa yang dahulu menghadap ke Timur atau persis menghjadap ke Makam Sampar. Menempatkan lokasi Makam Sampar tentu memiliki arti tersendiri bagi Sultan dan keluarganya yang mendiami Istana kesultanan Sumbawa saat itu. Setiap waktu, Makam Sampar akan selalu terlihat bagi siapa saja yang berada di Istana dan ini akan mengingatkan mereka bahwa  pada suatu saat nanti akan tinggal di Makam Sampar sebagai tempat peristirahatan terakhir sebelum menuju langit. Maklumlah saat itu pengaruh animisme masih sangat kuat.

Seperti diketahui, sebelum Islam masuk ke Sumbawa ,raja-raja dan masarakat Sumbawa masih menganut kepercayaan animisme, dinamisme kemudian Hindu. Sejak tahun 1674 sampai dengan tahun 1958 atau 284 tahun lamanya, Raja beragama Islam yang pernah memerintah di kerajaan Sumbawa tercatat sebanyak 17 orang raja. Sebelum itu, Sumbawa dibawah kekuasaan kerajaan Hindu dari Dinasti “Dewa Awan Kuning” dan Sultan terakhir yang memerintah saat itu adalah Dewa Maja Paruwa. Dinasti Dewa Awan Kuning berkahir tahun 1632 bersamaan dengan ekpansi Kerajaan Gowa yang menaklukkan Kerajaan Sumbawa dan tahun tersebut dicatat sebagai tahun awal Sultan Sumbawa dan keluarganya memeluk agama Islam.

Tahun 1632 juga dicatat sebagai tahun berduka, karena Dewa Maja Paruwa meninggal dunia setelah memerintah     dari tahun 1618 dan diperkikarakan beliau dimakamkan di Makam Sampar. Dewa Maja Paruwa lalu digantikan oleh Mas Gowa hingga 1637 lalu diganti dengan Mas Cini hingga 1674 yang dilengserkan karena keduanya disebut tidak konsisten menjalankan syareat Islam, sesuai perjanjian dengan Kerajaan Gowa, kemudian diganti oleh Mas Bantan yang dikenal taat menjalankan syariat Islam. Mas Bantan di lantik menjadi Sultan pada akhir 1674 dengan Gelar Sultan Hannururrasyid I sekaligus menandai dinasti baru yang memimpin Sumbawa yang dikenal dengan Dinasti Dewa Dalam Bawa.

Sejak saat itu perubahan terus dilakukan Mas Bantan termasuk letak Istana Sultan yang tidak lagi boleh mengikuti arah Kiblat atau membelakanginya. Perubahan menjadi bangunan “ Polak Ano “ dan menghadap selatan. Sejak Islam masuk ke Sumbawa semua Istana Sultan termasuk Bala’ atau Bale Rea ( Rumah Besar ) milik keluarga Raja, harus menghadap selatan. Titah perubahan dari Sultan Hanurrasyid I inilah yang hingga kini terlihat di Sumbawa karena diteruskan oleh 16 sultan lainnya termasuk tidak boleh menuliskan identitas siapa yang dimakamkan di Makam Sampar.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: