SUMBAWA DAHULU BUKANLAH TANAH TAK BERTUAN

BALE JAM DAN ISTANA BATU

Berbicara tentang sejarah sebuah daerah,mungkin cara yang paling cepat adalah menelusuri peninggalan budaya yang masih tersisa dari daerah tersebut.Begitu pula jika kita ingin membuka catatan sejarah Kabupaten Sumbawa, kita masih bisa menemukan sejumlah atibut yang masih tersisa misalnya istana tua ( dalam Loka ) bekas istana raja sumbawa,walau sekarang tinggal rangka-rangka kayu yang tidak jelas nasib nya. Atau sejumlah areal dan bangunan lain yang masih kokoh, kendati pula telah berubah fungsi.Kita mulai saja dari areal dan bangunan Istana Tua yang terletak dikelurahan Seketeng Kecamatan Sumbawa.

Sebelum Dalam Loka dibangun di atas lokasi yang sama pernah dibangun pula beberapa istana kerajaan pendahulu. Diantaranya Istana Bala Balong, Istana Bala Sawo dan Istana Gunung Setia. Istana-istana ini telah lapuk dimakan usia bahkan diantaranya ada yang terbakar habis di makan api. Sebagai gantinya, dibangunlahsebuah istana kerajaan yang cukup besar ukurannya beratap kembar serta dilengkapi dengan berbagai atribut. Istana yang dibangun terakhir ini bernama Dalam Loka.Peninggalan Kesultanan Sumbawa ini didirikan pada tahun 1885 oleh Sultan Muhamad Jalaluddin III (1883-1931).

Sebelum Dalam Loka dibangun di atas lokasi yang sama pernah dibangun pula beberapa istana kerajaan pendahulu. Diantaranya Istana Bala Balong, Istana Bala Sawo dan Istana Gunung Setia. Istana-istana ini telah lapuk dimakan usia bahkan diantaranya ada yang terbakar habis di makan api. Sebagai gantinya, dibangunlahsebuah istana kerajaan yang cukup besar ukurannya beratap kembar serta dilengkapi dengan berbagai atribut. Istana yang dibangun terakhir ini bernama Dalam Loka.

Sekarang Dalam Loka yang kebanggaan Tau Samawa ( masyarakat Sumbawa ) walau telah dipugar total belum pula mampu dijadikan pusat kesejarahan Sumbawa seperti yang banyak orang harapkan. Sekarang Istana Tua itu seperti tidak memberikan nilai apapun bagi generasi sekarang. Tidak ada yang bisa diharapkan dari keberadaannya,misalnya peninggalan-peninggalan Sultan dlsb. Ditambah lagi komplek istana tua yang semestinya steril dari bangunan apapun, kini dikotori oleh bangunan rumah keluarga sultan yang ikut-ikutan mengklaimnya sebagai milik pribadi.

Kemudian areal bersejarah lainnya, yakni ” Lenang Lunyuk ” atau lapangan besar yang berada dibagian atau samping barat Istana Tua, sekarang sudah hilang menjadi bagian atau komplek Mesjid Nurul Huda Sumbawa Besar bahkan termasuk mesjid tersebut yang dulunya bernama ” Masjid Makam “adalah peninggalan sejarah masa lalu yang semestinya tidak dilakukan perombakan total karena baik Istana Tua, Lenang Lunyuk dan Masjid Makam itu adalah bagian dari sebuah sejarah yang tidak terpisahkan satu sama lain.

Tidak jauh dari Istana Tua, Lenang Lunyuk maupun Masjid Makam, sekitar 500 meter kearah utara pada tahun 1934 dibangun sebuah istana modern oleh Belanda.Hingga kini ” Istana Batu ” yang lebih populer disebut Wisma Praja atau Pendopo Kabupaten itu masih berdiri kokoh. Wisma Praja ini sempat menjadi kantor terakhir Sultan Sumbawa Kaharuddin III sebelum pindah ke Bala Kuning yang khusus dibangun oleh keluarga Sultan sebagai rumah pribadinya. Bala Kuning ini adalah sebuah rumah besar ber-cat kuning dididiami sultan Sumbawa hingga beliau wafat dan sekarang ditempati Sultan Sumbawa Muhammad Kaharuddin IV.

Di Komplek Wisma Praja sendiri,sekarang sudah berdiri bangunan rumah dinas Bupati ( dibag.Barat ) kemudian bagian Timur dibangun lapangan tenis untuk para pejabat. Di Bagian timur ini dahulunya ada sebuah sumur keramat yang bisa saja dilestarikan sebagai peninggalan sejarah. Namun sumur yang dikenal dengan nama Sumir Batir dengan kedalaman 19 meter itu sudah ditutup. Sebelumnya bagian selatan komplek wisma praja ini juga sudah dipangkas. Dahulu tempat ini berdiri rumah-rumah dinas kediaman para pegawai kerajaan. Sekarang sudah hilang dan areal ini sudah berganti wajah,menjadi bangunan Sekolah Dasar, Kantor Kelurahan Brang Bara dan TK Pertiwi Sumbawa Besar.

Masih dikomplek Wisma Derah ; dibagian depannya ada sebuah bangunan bertingkat tiga yang juga sangat unik. Bangunan ini dikenal dengan ” Bale Jam ” atau rumah lonceng, karena dilantai 3 bagunan ini tergantung lonceng berukuran besar yang khusus didatangkan dari Belanda. Genta ini setiap waktu dibunyikan oleh seorang petugas, sehingga semua warga mengetahui waktu saat itu. Sekarang tidak lagi terdengar suara lonceng. Jika kita melintas didepan Bale Jam atau wisma daerah, kita mungkin tidak sadar berada diatas sebuah jalan yang khusus diberi nama Jalan Pahlawan dan jika kita menghadap ke utara akan terlihat sebuah lapangan yang namanya juga Lapangan Pahlawan. Kecuali Jalan Pahlawan, Lapangan Pahlawan yang memiliki alur sejarah tersendiri walau tidak terlepas dari sejarah wisma daerah itu, kini sudah berubah fungsi menjadi taman kota. Membuat taman kota ini,sama saja dengan aksi menghilangkan nilai sejarah.

Berbatasan dengan lapangan pahlawan ada sebuah parit yang sangat terkenal. Parit ini bernama ” Kokar Dano “. Kokar berarti parit yang hanya pada musim penghujan mengalirkan air. Dano adalah nama seseorang yang menjadi penunggu atau pengawas dari parit tersebut. Bukan itu yang ingin saya ceritakan. Parit ini tidak terbentuk secara alami, namun khusus dibuat pada saat pembangunan baru Istana Tua pada tahun 1885. Kokar Dano ini berawal dari Kantor Camat Sumbawa sekarang bersambung dengan aliran parit dari sawah yang berada dibagian timurnya. Kokar dano ini hanya sepanjang 1 Km dan berujung di sungai brang bara ( belakang komplek perokoan Jl.Kartini sekarang ).

Parit atau kokar dano ini dibuat sebagai pembatas wilayah istana kerajaan yang tidak boleh ditembus oleh sembarang orang.Bahkan orang Belanda pun tidak boleh sembarang masuk areal ini. Di Kokar Dano ini dibangun sebuah jembatan kayu ( letaknya berseberangan dengan kediaman alm.H.Khaeruddin Nurdin sekarang ). Lewat jembatan kecil ini lah setiap tamu kerajaan dipersilah memasuki areal istana kerajaan.Tamu-tamu yang dimaksud adalah tamu yang akan menghadap Raja. Mereka biasa datang dari jauh, dari seberang lautan.

Para tamu kerajaan yang datang dari seberang lautan, menambatkan kapalnya persis di pelabuhan Jembatan Pelimpat sekarang ( jembatan menuju bandar udara brang biji ) Dari sini para tamu itu dipersilahkan untuk berteduh atau berkemah di sebuah tempat yang sekarang dikenal dengan Karang atau Desa Bugis, tepatnya di bagian Barat jl.Mawar Sumbawa Besar. Tempat ini juga disebut sebagai karang Makam, karena disinilah dikuburkan para tamu yang datang dari jauh. Disebut Karang Bugis, karena orang yang pertama datang menemui sultan sumbawa kala itu datang dari bugis Sulawesi.

Setiap tamu yang datang menghadap raja, harus menambatkan kudanya di seberang kokar dano. Tempat tambatan kuda, tamu raja sumbawa itu, kemudian menjadi bioskop seorang tokoh tionghoa dan sekarang bediri sebuah pusat perbelanjaan.

Inilah sekelumit sejarah yang tidak pernah terpikirkan bagaimana melestarikan. Ingat bahwa dahulu, Sumbawa ini bukanlah tanah tak bertuan

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: