MENANTI PILKADA NTB : DUA TUAN GURU AKAN BERSAING KETAT

TUAN GURU BAJANG & TUAN GURU ZULKIFLI

Siapa bakal calon gubernur NTB periode 2013-2018, masih terus mengalir dalam bentuk wacana. Gubernur incumbent, TGH Zainul Majdi belum juga mau bicara. Sedangkan KH Zulkifli Muhadli telah menyatakan siap dan terdapat 30 suara yang memberi dukungan. Angka yang sangat menjanjikan untuk diperhitungkan oleh pihak lawan.

Melihat kepada perjalanan Zainul Majdi dan Kyai Zulkifli di pentas politik, ditemukan banyak kesamaan. Keduanya berlatar belakang pendidikan pondok pesantren, Tuan Guru Bajang dari Ponpes Nahdlatul Wathan lalu mengambil S2 di Universitas Al Azhar Mesir. Kyai Zul produk dari Pondok Moden Darussalam Gontor yang kesohor, selanjutnya mengambil S3 di Universitas Merdeka Malang. Keduanya menapaki karier politik dengan bendera Partai Bulan Bintang (PBB). Keduanya juga ulama yang populer di NTB.  Seiring dengan perjalanan waktu, Tuan Guru Bajang mungkin tidak merasa nyaman berada di rumah PBB karena musibah politik yang tidak mampu menembus parlemetery tres hold pada pemilu legeslatif 2008, lalu menerima tawaran Partai Demokrat untuk menjadi ketua PD Demokrat NTB, hal ini juga ikut membantu nilai tawar politiknya di tingkat lokal, karena Demokrat memiliki 8 kursi di  DPRD NTB, berada pada posisi nomor 2 setelah Partai Golkar yang memiliki 10 kursi, sedangkan PBB hanya 5 kursi.

Adakah peluang Tuan Guru Bajang bergandeng dengan Kyai Zulkifli pada pemilukada mendatang? Tentu sangat mungkin, karena keduanya telah mewakili keterwakilan dua pulau, yaitu Lombok dan Sumbawa apalagi keduanya pernah bersama-sama di PBB. Tapi elokkah sebuah birokrasi politik, gubernur dan wakil gubernur sama-sama berlatar belakang ulama? Jika jawabnya tidak elok atau kurang bagus untuk produktifitas sebuah lembaga pemerintahan, maka keduanya harus berjuang sendiri-sendiri.   Tuan Guru Bajang dengan 8 kursi di DPRD, sepertinya tidak sulit untuk maju pada periode 2013-2018, apalagi PDI-P (5 kursi) telah member isyarat mendukung TG Bajang. Sedangkan Kyai Zul sendiri sudah berhasil mengantongi 30 orang dari 8 partai (walaupun masih wacana).  Lantas bagaimana dengan kandidat lainnya? Beberapa nama masih terus bergulir, seperti H Zaini Arony (Partai Golkar), H. Harun Al-Rasyid (Gerindra).   Sebagaimana diketahui bahwa pertarungan politik di NTB untuk menjadi gubernur dan wakil gubernur, komposisi gubernur (P Lombok) dan wakil gubernur (P Sumbawa) telah terbukti efektif dalam menjaring suara pada 2 kali pilkada langsung. Pilkada pertama memunculkan TG Bajang (PBB-Lombok-ulama) dengan Badrul Munir (PKS-Sumbawa-birokrat).   Akankah terjadi perubahan pada pemilukada  yang akan datang? Artinya ketokohan, track record dan figur calon menjadi penentu? Jika dilihat pada hasil pilkada di DKI Jakarta, maka ketokohan dan track record calon ternyata sangat menentukan, sehingga Jokowi  (berhasil sebagai bupati Solo) dapat mengalahkan Fauzi Bowo (incumbent yang telah malang melintang di Jakarta). Begitu pula dari sisi dukungan partai, Jokowi – Ahok hanya didukung oleh PDI Perjuangan dan GERINDRA melawan partai-partai besar dan kecil yang mengeroyok Jokowi,  seperti Golkar, Demokrat, PKS,  PAN, PPP, dan lain-lain.   Jika yang terjadi di Jakarta tersebut dapat menjadi pelajaran politik bagi masyarakat NTB pada Pemilukada 2013, maka tidak mustahil seorang gubernur berasal dari Pulau Sumbawa dan wakilnya dari Lombok. Tidak mustahil seorang gubernur bukan berasal dari partai besar dan ini sudah terbukti ketika TG Bajang (PBB) mengalahkan Serinata (Golkar).   Untuk diketahui bahwa komposisi anggota DPRD NTB saat ini adalah sebagai berikut: P Golkar (10), Partai Demokrat (8), PKS (6), PBB (5), PDI-P (5), PAN (4), PPP (4), Hanura (3), PKPB (2), Gerindra (2), PBR (2), PPI, PPRN, PKB, PKNU – masing-masing  1 kursi.

Iklan

Perihal admin
Hobi Menulis

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: